Aktivitas pemasangan ranjau laut oleh militer Iran di kawasan strategis Selat Hormuz terpantau oleh intelijen Amerika Serikat pada akhir pekan lalu, April 2026. Langkah ini dinilai mengancam keselamatan kapal komersial maupun militer yang melintasi jalur distribusi energi dunia tersebut.
Dilansir dari Detik iNET, laporan intelijen menyebutkan bahwa ranjau-ranjau tersebut memiliki teknologi yang sulit dilacak. Kehadiran alat peledak bawah air ini memicu kekhawatiran serius mengenai stabilitas navigasi di wilayah perairan tersebut.
Dua kapal perusak milik Angkatan Laut AS, USS Michael Murphy dan USS Frank E. Peterson, telah melakukan pelayaran melintasi selat tersebut pada akhir pekan lalu. Operasi ini dilakukan sebagai bentuk demonstrasi bahwa navigasi di Selat Hormuz masih memungkinkan bagi kapal internasional.
Mantan kapten Angkatan Laut AS, Carl Schuster, menyatakan bahwa kapal perusak tersebut kemungkinan besar tidak melakukan pembersihan ranjau secara langsung. Menurutnya, pembersihan efektif memerlukan platform khusus seperti drone bawah air, kapal tempur pesisir, atau helikopter khusus penanggulangan ranjau.
Jenis ranjau yang dikerahkan Iran sangat bervariasi, mulai dari ranjau kontak berduri hingga ranjau tekanan yang sangat kompleks. Selain itu, terdapat ranjau pengaruh, magnetik, dan akustik yang meledak berdasarkan jejak statis, perubahan magnetik, atau suara mesin kapal.
"Ini adalah bidang di mana Angkatan Laut AS kemungkinan besar akan lebih mengandalkan sekutu dan mitra daripada yang diperkirakan orang," kata Alessio Patalano, profesor perang dan strategi di King's College London.
Tantangan utama dalam pembersihan ini adalah adanya ranjau canggih yang dilengkapi penghitung otomatis. Alat ini memungkinkan sejumlah kapal lewat terlebih dahulu tanpa terjadi ledakan, sehingga menciptakan rasa aman palsu sebelum akhirnya meledak pada target berikutnya.
Saat ini, kemampuan penyapuan ranjau AS di wilayah tersebut terbatas setelah memensiunkan empat kapal penyapu ranjau khusus di Bahrain tahun lalu. Tugas tersebut kini dialihkan ke tiga kapal tempur pesisir (LCS), namun keberadaan armada tersebut tidak diungkapkan secara rinci kepada publik.