Di tengah konflik dengan Iran, Israel juga melancarkan serangan terhadap Lebanon, termasuk menyebarkan QR code yang dicurigai berbahaya.
Tentara Israel dilaporkan menyebarkan kertas berisi QR code di Beirut, Lebanon, seperti yang diberitakan CNBC pada Senin (16/3/2026). QR code tersebut diduga berisi hasutan kepada warga Lebanon agar menuntut pelucutan senjata Hizbullah.
Pihak militer Lebanon dan para ahli keamanan siber mencurigai bahwa QR code tersebut adalah upaya phishing. Ponsel warga yang memindai kode tersebut berpotensi diretas.
Selain tautan phishing, Israel juga menyebarkan QR code yang terhubung ke akun WhatsApp dan Facebook milik Unit 504 militer Israel. Unit ini terkait dengan kegiatan intelijen dan bertugas merekrut informan.
Warga Lebanon juga dilaporkan menerima telepon dan SMS ancaman secara acak, yang menciptakan kepanikan. SMS dari Israel bahkan dikirim ke kantor pemerintah dan gedung pengadilan, menyebabkan evakuasi karena kekhawatiran akan serangan udara.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan terkait situasi di Lebanon, "Kami menjanjikan ketenangan dan keamanan kepada masyarakat di utara, dan itulah yang akan kami berikan," seperti dikutip dari Reuters.
Taktik penyebaran selebaran, QR Code, telepon, dan SMS ancaman ini dinilai sebagai bagian dari perang psikologi Israel terhadap Lebanon. Sebelum serangan udara, militer Israel memperingatkan warga untuk menjauh dari area yang dianggap dekat dengan fasilitas Hizbullah, seperti di Bachoura, Grand Serail, dan distrik Zuqaq al-Blat.