Insiden jatuhnya pesawat tempur canggih F-15E di Iran baru-baru ini telah memicu klaim dari pasukan Iran. Mereka menyatakan berhasil menembak jatuh dua jet Amerika Serikat (AS) sekaligus. Juru bicara militer Iran mengemukakan bahwa pertahanan udara mereka telah menghancurkan satu jet F-15, dan pada hari yang sama, sebuah pesawat A-10 AS juga disebut berhasil dijatuhkan oleh militer Iran, seperti dilansir dari Detik iNET.
Selain F-15E, pesawat A-10 Thunderbolt II yang juga dikenal dengan julukan Warthog menjadi sasaran sistem pertahanan udara terpadu Iran. Klaim ini dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah IRIB. Namun, New York Times mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menyebutkan bahwa pesawat A-10 tersebut selamat setelah mengalami 'kecelakaan', tanpa memberikan detail insiden tersebut.
Media AS, New York Post, memberitakan, "Pesawat tempur AS kedua jatuh di wilayah Teluk Persia setelah terkena tembakan Iran dan pilot tunggal berhasil diselamatkan dengan selamat, menurut pejabat AS dan sebuah laporan."
Fairchild Republic A-10 Thunderbolt II adalah pesawat serang subsonik bermesin turbofan ganda dan satu tempat duduk. Pesawat ini dikembangkan oleh Fairchild Republic untuk Angkatan Udara AS (USAF) dan telah beroperasi sejak tahun 1977.
Dinamai berdasarkan pesawat tempur Republic P-47 Thunderbolt dari Perang Dunia II, A-10 dirancang untuk memberikan dukungan udara jarak dekat kepada pasukan darat. Misi utamanya adalah menyerang kendaraan lapis baja, tank, dan pasukan darat musuh. Misi sekundernya meliputi pencarian dan penyelamatan tempur, serta mengarahkan pesawat lain dalam serangan terhadap target darat.
Nasib setidaknya satu pilot dari kru F-15E yang diklaim ditembak jatuh masih menjadi tanda tanya. Beberapa media AS melaporkan bahwa satu kru jet ditemukan dan berhasil diselamatkan oleh pasukan AS, namun satu lainnya masih dinyatakan hilang.
Media pemerintah Iran menayangkan foto-foto puing jet F-15 dan yang terlihat seperti kursi lontar dengan parasut terpasang. Setelah jet ditembak jatuh, Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, mengejek klaim kemenangan berulang kali yang sebelumnya dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump.
"Setelah mengalahkan Iran 37 kali berturut-turut, perang brilian tanpa strategi yang mereka mulai ini sekarang statusnya telah turun dari 'pergantian rezim' menjadi 'Hei! Adakah yang bisa menemukan pilot kami? Tolong?'" tulis Ghalibaf di media sosial.
Pejabat Iran juga meminta warga untuk mencari dan mewaspadai keberadaan pasukan AS yang selamat. Gubernur provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad di Iran bahkan menjanjikan penghargaan bagi siapa pun yang berhasil menangkap kru tersebut.
Sistem Pertahanan Udara Iran
Meskipun Trump dan ajudan utamanya berulang kali menegaskan bahwa AS telah menghancurkan seluruh sistem pertahanan udara Iran sejak perang dimulai, insiden ini menunjukkan bahwa Iran masih mampu melakukan perlawanan. Bahkan, Iran dilaporkan memiliki sistem baru yang berhasil merontokkan F-15E.
"Pihak Iran selama beberapa hari terakhir, sejak tanggal 19 Maret, menyatakan mereka memperkenalkan sistem baru yang mereka kembangkan setelah perang 12 hari (tahun lalu)," kata Al Jazeera.
Insiden ini merupakan kali pertama jet AS jatuh di wilayah Iran sejak perang dimulai lebih dari sebulan yang lalu. Sebelumnya, pasukan Kuwait secara tidak sengaja menembak tiga jet tempur F-15E Strike Eagle pada 1 Maret.
Myles Caggins, pensiunan kolonel Angkatan Darat AS dan peneliti senior di New Lines Institute, menilai penembakan jet tersebut sebagai peristiwa signifikan bagi militer AS. "Senjata pertahanan udara utama Iran telah dihancurkan pada hari-hari pertama perang melalui serangan udara atau dilumpuhkan melalui serangan siber yang canggih, namun masih ada sistem pertahanan udara portabel dan kemungkinan jenis sistem yang dibawa oleh satu orang itulah yang bisa saja menembak jatuh F-15 ini," kata Caggins.