Menjelang bergulirnya musim MotoGP 2026, pembalap Joan Mir mengungkapkan kekhawatirannya terkait daya saing motor Honda Racing Corporation (HRC). Pernyataan ini muncul setelah serangkaian tes pramusim yang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi tim pabrikan asal Jepang tersebut, seperti dilansir dari Bola.
Meskipun Honda sempat menunjukkan performa menjanjikan di musim 2025 dengan pengembangan paket motor yang lebih baik, hasil tes pramusim terbaru justru memperlihatkan situasi belum ideal. Mir, yang menjadi pembalap Honda terbaik di tes Buriram, hanya mampu menempati posisi ke-10 dalam catatan waktu gabungan.
Pembalap asal Spanyol itu menilai kelemahan utama RC213V terletak pada kurangnya grip, sebuah masalah yang sangat terasa selama pengujian. Menurut Mir, kondisi lintasan di Buriram menambah kesulitan dibandingkan saat tes di Sepang, membuatnya tidak dapat memaksimalkan potensi motor.
“Sejujurnya, di trek ini entah kenapa kami menemukan lebih banyak kesulitan dibandingkan di Sepang, terutama bagi saya sendiri,” ungkap Mir.
Dia menambahkan bahwa penggunaan konstruksi ban belakang yang lebih kaku di Buriram tidak cocok dengan karakter motor Honda saat ini. Ini memaksa tim untuk melakukan penyesuaian pada set-up.
“Secara realistis kami sedikit kesulitan dalam hal grip. Mungkin konstruksi ban yang berbeda ini bukan teman terbaik kami saat ini dan itu membuat kami harus mengubah motor sedikit,” jelasnya.
Mir juga merasa arah pengembangan motor Honda belum sepenuhnya jelas. Ia menilai paket motor mereka saat ini belum benar-benar kompetitif.
Pesaing Lain Dinilai Selangkah Lebih Maju
Selain masalah grip, Mir juga mengakui bahwa pabrikan lain, khususnya Ducati dan Aprilia, berada di level yang lebih tinggi. Ia secara terbuka menyebut bahwa performa tim-tim seperti Ducati Lenovo Team dan Aprilia Racing lebih kuat di fase awal musim ini.
“Dari segi potensi, saya sebenarnya berharap lebih. Grip adalah sesuatu yang sejak Sepang sudah saya katakan perlu kami tingkatkan, itu adalah kelemahan kami,” kata Mir.
“Saat ini saya melihat Ducati dan Aprilia berada di level yang berbeda.” Situasi di Buriram pun, menurutnya, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Sepang, meskipun sempat ada harapan untuk bersaing lebih ketat di Malaysia.
Honda Butuh Revolusi, Bukan Sekadar Evolusi
Lebih lanjut, Mir menyoroti pengembangan motor Honda yang masih bersifat evolusi, bukan revolusi besar. Ia berpendapat bahwa perubahan kecil ini belum cukup untuk mengatasi masalah fundamental yang dihadapi tim.
Mengingat status Honda yang telah keluar dari posisi terbawah dalam sistem konsesi MotoGP musim lalu, pabrikan Jepang itu tidak dapat menghadirkan mesin baru untuk musim 2026. “Kami memang sedang dalam proses. Kami mencoba beberapa hal berbeda, tetapi bukan konsep yang benar-benar baru,” ujarnya.
“Konsepnya masih sama. Ada evolusi, bukan revolusi, padahal dalam hal grip kami butuh revolusi.” Mir menyimpulkan bahwa kondisi Honda saat ini mirip dengan musim lalu. Meskipun ada peningkatan, para rival juga berkembang pesat. Meski demikian, Mir masih berharap perubahan pada penggunaan ban di seri berikutnya dapat membantu meningkatkan performa motor Honda saat MotoGP 2026 resmi dimulai.