Sebanyak 15 orang meninggal dunia dan 84 penumpang lainnya luka-luka akibat kecelakaan beruntun yang melibatkan taksi, KRL Commuter Line, dan kereta api Argo Bromo Anggrek di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin malam, 27 April 2026.
Peristiwa tragis ini bermula saat sebuah taksi mogok di tengah perlintasan sebidang yang menghalangi jalur aktif, sehingga memaksa KRL Commuter Line Cikarang berhenti mendadak. Dilansir dari Medcom, kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang kemudian menghantam gerbong KRL tersebut sebelum proses evakuasi berhasil dilakukan.
Dampak benturan paling parah dilaporkan terjadi pada gerbong paling belakang yang merupakan area khusus wanita. Puluhan penumpang di bagian tersebut mengalami luka serius akibat hantaman keras dari arah belakang yang menghancurkan struktur gerbong.
Kesiapan penumpang dalam menghadapi situasi darurat menjadi faktor krusial dalam meminimalisir risiko fatalitas. Penempatan barang bawaan yang benar dan pemilihan posisi duduk yang membelakangi arah laju kereta dapat mengurangi risiko cedera saat terjadi benturan mendadak.
Penumpang disarankan untuk segera mengambil posisi proteksi dengan menunduk dan melindungi kepala saat merasakan guncangan tidak wajar. Posisi ini harus dipertahankan hingga kereta benar-benar berhenti guna menghindari dampak dari benturan susulan yang mungkin terjadi.
Proses evakuasi mandiri harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi sekitar, termasuk ancaman kabel listrik yang jatuh atau kobaran api. Penumpang dilarang keluar dari gerbong sebelum ada instruksi petugas, kecuali dalam keadaan mendesak seperti munculnya api di dalam ruangan.
Setelah berhasil keluar dari gerbong yang rusak, penumpang diinstruksikan untuk menjauh minimal 30 meter dari jalur rel. Langkah ini penting untuk menghindari bahaya dari kereta lain yang masih beroperasi atau kemungkinan pergerakan susulan dari gerbong yang tergelincir.