Kisah pilu seorang perempuan yang mengalami kekerasan fisik oleh kakak kandungnya sendiri menjadi viral di platform TikTok. Korban menceritakan dirinya diinjak hingga menyebabkan rahangnya memar dan berbagai cedera serius lainnya. Unggahan ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian.
Video tersebut dibagikan melalui akun @sarahhanifah17, yang juga mengungkapkan kerinduan akan keluarga harmonis. "Impianku selalu pengen punya keluarga cemara, bahagia, kompak tidak pernah saling tersaingi," tulisnya di keterangan video, dikutip dari Detik iNET.
Korban yang juga merupakan duta kampus ini, membagikan foto-foto memar di beberapa bagian tubuhnya. Rahangnya tampak bengkak dan membiru, sementara ia harus menahan rasa sakit seorang diri di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Hingga saat ini, video tersebut telah disaksikan sebanyak 13.700 kali. Dina Maharani (29) membagikan kisahnya mengenai kekerasan yang dilakukan kakaknya kepada awak media.
"Mereka (keluarga Dina) minta tolong sama aku buat cabut laporannya, mereka nggak tanya aku baik-baik aja apa nggak," ucap Dina melalui pesan suara pada Rabu, 1 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa trauma membuatnya sulit tidur dan merasa malu untuk pergi ke kampus karena luka di wajah dan bahunya.
Dina mengungkapkan bahwa kekerasan fisik dan verbal dari kakaknya, berinisial Y, bukan kali pertama terjadi. Meskipun demikian, mereka selalu berusaha menjaga hubungan keluarga yang tampak harmonis di permukaan.
Insiden terakhir bermula dari pesanan kue. Dina meminta kakaknya untuk membayar ongkos kirim sebesar Rp 25.000 sebagai bentuk profesionalitas. Dina merasa kakaknya kerap tidak profesional dalam bisnis, seperti ketika menolak pesanan 30 boks risol dari manajernya.
Situasi semakin memanas ketika sang kakak merasa kewalahan setelah mengantar orang tua mereka berobat dua kali. Dina merasa heran, sebab biasanya ia lah yang bertugas mengantar orang tua berobat.
Kronologi Penganiayaan
Pada 24 Maret 2026, Dina bersama anaknya menginap di rumah ibunya. Keesokan harinya, tepatnya pukul 23.00 WIB, kakaknya Y datang dan langsung melabrak Dina. Adu mulut pun terjadi antara Y, adik ipar Dina, dan Dina, sementara sang ibu hanya bisa menangis kebingungan.
Y sempat diusir dan pintu telah dikunci, namun ia terus menggedor. Adik ipar Dina yang kesal meminta Dina keluar. "Mamaku bilang, 'Jangan keluar, nanti kamu habis'," kenang Dina, namun ia tetap keluar tanpa kekhawatiran berlebih.
Di luar rumah, Y langsung menyerang Dina. Y berusaha mencekik, namun berhasil ditepis. Setelah adu mulut sengit, Y mendorong tubuh dan kepala Dina hingga jatuh ke jalan. Dalam keadaan kalap, Y menginjak leher, rahang, dan pelipis Dina.
Dina sempat membela diri dengan menjambak Y hingga terjatuh, sambil berteriak minta tolong. Beruntung, seorang pengendara mobil berhenti dan menolong Dina. Meski selamat, Dina mengalami luka-luka dan trauma mendalam.
Dina memiliki bukti rekaman audio selama kejadian penganiayaan yang telah diajukan kepada pihak kepolisian. "Aku masih recovery karena belikat belakangku itu masih perlu terapi beberapa kali di WM Center," ujar Dina.
"Terus, aku juga besok harus ke rumah sakit buat rongen rahang aku karena kena TMJ. Aku pengen kasus aku tidak diabaikan sama polisi hanya karena ini kakak sendiri," tambahnya. Dina berharap kasusnya tidak diabaikan oleh polisi dan ia ingin kakaknya bertanggung jawab atas perbuatannya, bukan sekadar permohonan maaf.