Dunia olahraga prestasi di Indonesia kembali terguncang oleh kasus pelecehan seksual yang menimpa atlet Kick Boxing Jawa Timur. Kejadian ini mencuat setelah atlet panjat tebing juga mengalami kasus serupa sebelumnya. Melalui pernyataannya pada Jumat (10/4/2026), Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman menyampaikan kecaman keras terhadap insiden tersebut, sebagaimana dilansir dari Bola.
Kasus ini melibatkan atlet Kick Boxing Jawa Timur bernama Viona Amalia Adinda Putri, yang telah melaporkan dugaan pelecehan seksual kepada pihak kepolisian pada Januari 2025. Viona diketahui merupakan peraih medali emas di PON XXI/2024 Aceh-Sumut dan juara female striking MMA Global Association of Mixed Martial Arts (GAMMA) World Mixed Martial Arts Championships 2023 di Bangkok, Thailand.
Pada Februari 2026, Ketua Pengurus Provinsi Kick Boxing Indonesia (KBI) Jawa Timur yang juga berperan sebagai pelatih, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pelecehan ini. Penetapan tersangka ini menjadi perhatian serius bagi organisasi olahraga nasional.
Marciano Norman menegaskan bahwa tindakan pelecehan seksual tidak memiliki tempat dalam lingkungan olahraga prestasi. Ia menekankan bahwa tujuan luhur masyarakat olahraga adalah membimbing atlet meraih prestasi demi mengharumkan nama bangsa.
"Selaku Ketua Umum KONI Pusat, saya mengecam tindakan pelecehan seksual dalam olahraga prestasi," tegas Marciano Norman. "Tujuan kita sebagai masyarakat olahraga prestasi itu mulia, yaitu mengantar atlet meraih prestasi, membuat bendera Merah Putih dikibarkan dengan diiringi berkumandangnya Lagu Indonesia Raya. Kita Patriot Olahraga Indonesia, di kepala kita hanya ada Merah Putih dan prestasi."
Marciano Norman mengimbau seluruh organisasi anggota KONI Pusat, termasuk 38 KONI Provinsi, KONI IKN, 81 Induk Cabang Olahraga, serta 6 organisasi fungsional, untuk memberikan perhatian serius. Hal ini bertujuan untuk memastikan tidak ada lagi kasus pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia.
Selain tindakan pencegahan, organisasi anggota KONI Pusat juga diharapkan memberikan penanganan komprehensif, khususnya bagi para atlet yang menjadi korban. Menurut Marciano, perlindungan terhadap atlet, pelatih, dan ofisial adalah prioritas utama.
"Kita harus menjunjung sportivitas, menghargai satu sama lain dan taat pada aturan yang berlaku," ujar Marciano Norman. Ia menambahkan bahwa olahraga prestasi bukan tempat untuk pelecehan seksual, dan sanksi tegas akan diberikan sesuai peraturan yang berlaku jika terbukti ada pelanggaran agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Ketua Umum KONI Pusat itu juga menyampaikan apresiasi atas keberanian para korban dalam mengungkapkan kasus yang menimpa mereka. Ia turut meminta maaf atas kondisi yang tidak diinginkan dan berharap para korban mendapatkan dukungan penuh, baik lahir maupun batin, termasuk bantuan psikolog dari organisasi olahraga terkait.