PSSI Edukasi Orang Tua Atlet Muda Mengenai Nutrisi Sepak Bola

PSSI fokus mengedukasi orang tua siswa SSB tentang pola makan benar untuk mencetak atlet berprestasi dan menghindari masalah berat badan berlebih.

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengintensifkan program edukasi nutrisi bagi siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) dan orang tua mereka pada Minggu (3/5/2026). Langkah ini bertujuan memastikan atlet muda mendapatkan asupan gizi yang tepat guna menunjang performa di lapangan hijau.

Head of Medical, Physio, and Doping Control PSSI, Dr. Syarif Alwi, menyatakan bahwa federasi kini sangat fokus pada pembinaan usia muda melalui dukungan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Edukasi tersebut menyasar pemahaman mendasar mengenai cara makan yang benar bagi calon atlet profesional.

Dilansir dari Bola, Dr. Syarif Alwi menjelaskan bahwa banyak pemain di tingkat SSB mengalami masalah berat badan berlebih atau overweight. Hal ini bukan disebabkan oleh kekurangan gizi, melainkan kesalahan pola makan dan asupan kalori yang tidak seimbang dengan intensitas latihan.

PSSI berencana mengunjungi berbagai SSB untuk memberikan penjelasan langsung kepada wali atlet. Program ini menekankan bahwa makanan bergizi tidak harus selalu mahal, melainkan harus memenuhi komposisi protein hewani, nabati, dan serat yang cukup.

"Makan yang baik tidak identik selalunya mahal. Kita tahu, sebenarnya yang lebih banyak kalau saya lihat pemain-pemain yang ada di SSB, bukannya mereka makan yang tidak benar mungkin. Namun, mungkin lebih tepat, bukan kurang gizi ya. Mungkin salah gizi," kata Dr. Syarif Alwi, Head of Medical PSSI.

Pencari bakat PSSI asal Belanda, Simon Tahamata, turut menyoroti kebiasaan pesepak bola muda Indonesia yang terlalu sering mengonsumsi makanan berat dalam porsi besar. Syarif menambahkan bahwa asupan nasi yang berlebihan pada pagi, siang, dan malam hari kerap membuat hitungan kalori menjadi tidak ideal.

Sebagai solusi, orang tua didorong untuk lebih kreatif dalam menyajikan makanan, seperti mengolah protein nabati seperti tahu dan tempe dengan tampilan menarik. Syarif mencontohkan penyajian tempe dalam bentuk sate agar anak-anak lebih tertarik mengonsumsi sumber protein tersebut sebagai pengganti daging ayam.

Recommended