Bek Dewa United U-20, Rakha Nurkholis, harus menjalani perawatan intensif dan menunggu hasil pemeriksaan MRI usai menjadi korban kekerasan fisik dalam laga Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 pada Minggu, 19 April 2026.
Insiden yang melibatkan tendangan fisik dari pemain lawan tersebut terjadi di Stadion Citarum, Semarang, dan menyebabkan Rakha harus menggunakan penyangga lengan (arm sling) saat menghadiri proses mediasi pada Rabu, 22 April 2026.
Dilansir dari Bola, proses mediasi antara pihak Dewa United U-20 dan Bhayangkara FC U-20 dilakukan secara kekeluargaan di Dewa United Arena, Tangerang, guna meredam ketegangan pasca-pertandingan.
Direktur Akademi Dewa United, Firman Utina, mengonfirmasi bahwa kondisi kesehatan pemain bernomor punggung 130 itu masih dipantau secara ketat oleh tim medis klub hingga saat ini.
"Raka masih dalam tahap perawatan, namun tetap dia bisa berjalan ke lapangan untuk mengingatkan kembali jalurnya," kata Firman Utina, Direktur Akademi Dewa United.
Firman menambahkan bahwa pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) menjadi langkah krusial untuk menentukan prosedur tindakan medis selanjutnya bagi pemuda kelahiran 15 Desember 2008 tersebut.
Pihak manajemen Dewa United berharap hasil pemeriksaan tidak menunjukkan cedera yang terlalu serius sehingga sang pemain bisa segera kembali menjalani sesi latihan rutin di lapangan.
Pelaku tindakan fisik, Fadly Alberto, telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada korban serta jajaran manajemen tim dalam pertemuan mediasi tersebut.
Meski kedua pihak sepakat berdamai secara kekeluargaan, kasus pelanggaran disiplin ini tetap diserahkan kepada Komdis PSSI dan I.League untuk diproses sesuai regulasi kompetisi yang berlaku.
Bhayangkara FC U-20 juga dilaporkan telah mengambil langkah tegas dengan menjatuhkan sanksi internal kepada individu yang terlibat dalam keributan di Semarang tersebut.