Regulasi Teknis F1 2026 Disorot, Max Verstappen Minta Peninjauan Ulang

Aturan teknis Formula 1 musim 2026 menjadi sorotan setelah balapan pembuka di Melbourne, memicu kritik dari pembalap seperti Max Verstappen yang meminta peninjauan.

Pimpinan Formula 1 dan Federasi Otomotif Internasional (FIA) mempertimbangkan perubahan pada regulasi teknis baru untuk musim 2026. Keputusan ini diambil setelah sejumlah masukan dan kritik dari para pembalap, termasuk juara dunia Max Verstappen, menyusul seri pembuka di Melbourne, Australia pada akhir pekan lalu, dilansir dari Bola.

Kritik tersebut muncul setelah balapan di Melbourne yang dimenangkan oleh pembalap Mercedes, George Russell. Russell memulai balapan dari posisi terdepan dan meraih kemenangan, diikuti rekan setimnya, Kimi Antonelli, yang finis kedua, mengamankan hasil satu-dua untuk tim Silver Arrows di awal musim 2026.

Kemenangan Mercedes tidak diraih dengan mudah, mengingat Charles Leclerc dari Ferrari sempat merebut posisi terdepan berkat akselerasi start yang kuat. Meskipun Russell beberapa kali berhasil menyalip Leclerc, pembalap asal Monako itu mampu merebut kembali posisi terdepan sebelum strategi Virtual Safety Car (VSC) memantapkan kemenangan Mercedes.

Sorotan utama setelah lomba tidak hanya pada duel sengit di lintasan, tetapi juga pada regulasi baru 2026. Max Verstappen menjadi salah satu pembalap yang secara terbuka menyuarakan kekhawatirannya dan mendesak adanya peninjauan kembali terhadap aturan tersebut.

"Saya mencintai balapan, dan saya ingin balapan menjadi lebih baik dari ini. Jadi, kita lihat saja apa yang bisa dilakukan," kata Verstappen setelah lomba. Ia menambahkan bahwa dirinya berharap FIA dan F1 benar-benar mengambil tindakan nyata menanggapi kritik para pembalap.

Verstappen menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan sekadar keluhan, melainkan upaya untuk memperbaiki kualitas olahraga. "Kami hanya ingin yang terbaik untuk olahraga ini. Bukan berarti kami mengkritik hanya demi mengkritik," lanjut pembalap asal Belanda itu.

Secara umum, sasis baru yang lebih ringan dan berukuran lebih kecil mendapat pujian dari para pembalap dan tim. Namun, permasalahan muncul pada unit tenaga baru yang sangat bergantung pada sistem baterai, yang kini dinilai kekurangan energi. Masalah ini juga diperparah oleh fenomena "super clipping" di mana mobil kehilangan daya saat mencapai kecepatan maksimum.

Menurut laporan The Race, F1 dan FIA menyadari bahwa sistem pemanenan energi yang saat ini digunakan belum berada pada tingkat ideal. Oleh karena itu, kedua pihak membuka kemungkinan untuk melakukan penyesuaian regulasi guna meningkatkan kualitas balapan dan keselamatan pembalap.

Direktur balap mobil single-seater FIA, Nikolas Tombazis, menjelaskan bahwa tim-tim telah sepakat untuk mempertahankan pengaturan regulasi saat ini pada beberapa balapan awal musim. "Posisi bersama dari tim adalah kami tetap menggunakan pengaturan saat ini untuk beberapa balapan awal, lalu meninjau kembali setelah memiliki lebih banyak data," jelas Tombazis.

Diskusi mengenai potensi perubahan aturan dijadwalkan berlangsung setelah seri Grand Prix China. Tim-tim akan mengumpulkan data tambahan dari satu balapan lagi sebelum keputusan diambil. "Setelah China, niat kami adalah meninjau kembali situasi manajemen energi," imbuhnya.

Tombazis juga mengungkapkan bahwa FIA sebenarnya telah menyiapkan beberapa solusi potensial. Namun, solusi tersebut sengaja tidak langsung diterapkan menjelang balapan pertama agar tidak terkesan sebagai reaksi yang tergesa-gesa. "Kami memiliki beberapa kartu di tangan kami terkait hal itu, tetapi kami tidak ingin memperkenalkannya sebelum balapan pertama sebagai reaksi spontan. Kami akan meninjaunya bersama tim setelah China."

Tombazis menambahkan bahwa perubahan yang dilakukan terlalu cepat justru berisiko memperburuk situasi. Oleh karena itu, FIA ingin memastikan setiap langkah yang diambil benar-benar meningkatkan kualitas kompetisi. "Saya pikir hal terburuk yang bisa kami lakukan adalah mengubahnya lalu malah membuatnya lebih buruk," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menghasilkan tontonan yang hebat dengan mobil dan pembalap terbaik di dunia. "Itulah mengapa kami perlu melihat produknya terlebih dahulu. Jika memang perlu disesuaikan atau diperbaiki, saya pikir Formula 1 memiliki fleksibilitas untuk selalu mengambil keputusan tersebut," kata Tombazis. Jika perubahan dianggap mendesak, aturan baru bisa mulai diterapkan pada Grand Prix Jepang yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Maret, dengan kemungkinan perubahan yang lebih besar di kemudian hari.

Recommended