Direktur Akademi Persija Jakarta, Ricky Nelson, memberikan pandangannya mengenai lonjakan harga pemain lokal yang berpartisipasi di BRI Super League. Keluhan para pemilik klub dan pengamat sepak bola terkait fenomena ini, menurut Ricky, memiliki akar masalah yang jelas, seperti dilansir dari Bola.
Ricky menjelaskan bahwa jumlah pemain lokal yang memiliki peran inti di kasta tertinggi liga Indonesia sangat terbatas. Kondisi ini diperparah oleh regulasi yang memperbolehkan hingga 11 pemain asing bermain di setiap klub, sehingga dominasi pemain asing kini terlihat di hampir setiap lini.
Situasi tersebut membuat pemain lokal kesulitan untuk bersaing. Jika pun ada yang berhasil menembus tim utama, jumlahnya tidak banyak. Ricky Nelson mengungkapkan hal ini melalui kanal YouTube Sport77 Official, dengan mengambil contoh kasus bek andalan Persija Jakarta sekaligus bintang Timnas Indonesia, Rizky Ridho.
“Nah, ini yang mungkin berpengaruh kepada liga yang kemarin saya banyak lihat di Podcast, owner kecewa. 'Ini pemain lokal kok mahal-mahal?'. Ya mahal, karena sedikit,” ujar Ricky Nelson sambil tertawa. Ia menambahkan, “Sekarang misalnya 10 klub liga super league mau ambil Rizky Ridho, ya gimana, harganya pasti gila. Itu problemnya di situ.”
Ricky Nelson menawarkan solusi untuk masalah ini, yaitu dengan memperbanyak stok pemain lokal berkualitas. Menurutnya, tantangan terbesar terletak pada hilangnya potensi pemain pada usia 17 tahun. Banyak yang berpendapat bahwa pemain Indonesia sangat berbakat di usia pelajar, namun kehilangan performa saat memasuki usia 17-18 tahun.
Pelatih berlisensi Pro – AFC itu kemudian memaparkan upaya Persija Jakarta dalam membina pemain mudanya agar mampu bersaing dan mendapatkan waktu bermain, serta menjaga performa mereka. Ia mencontohkan Dony Tri Pamungkas, yang meskipun berusia 21 tahun, sudah tidak lagi termasuk kategori pemain muda (usia 20 tahun ke bawah).
“Kuncinya memang harus dijaga mereka itu. Kalau enggak bisa hilang. Yang jaga, ya tetap klub yang nomor satu,” tutur Ricky Nelson. Ia juga menyebut bahwa klub proaktif dalam mengelola pemain muda, bahkan saat kontrak mereka mendekati akhir.
Strategi Peminjaman Pemain Muda Persija
Ricky Nelson mengungkapkan bahwa Persija Jakarta memiliki strategi khusus untuk memberikan kesempatan kepada pemain mudanya, yaitu melalui skema peminjaman ke klub lain. Ini dilakukan untuk menumbuhkan motivasi dan memberikan pengalaman bertanding yang dibutuhkan.
“Terus saya bilang ke manajemen, 'Ini coba lagi setahun. Atau pinjamin ke klub lain'. Dengan kita meminjamkan itulah, dia lagi motivasi. Nah, itulah, ketika dia kita pinjamkan dan dia perform di klub lain, itu yang menumbuhkan motivasi dia. Akhirnya kembali ke kita lagi,” jelas Ricky Nelson.
Menurutnya, pemain muda akan sulit langsung menembus tim utama jika tidak melalui jalur peminjaman. Persija saat ini membelokkan jalur mereka ke klub Liga 3, Liga 2, atau bahkan klub Liga 1 yang membutuhkan. Hingga saat ini, hampir 27 pemain Persija, mulai dari kelompok U-20 hingga senior, telah dipinjamkan.
Pemantauan dan Evaluasi Berkelanjutan
Meskipun pemain dipinjamkan, manajemen Persija Jakarta terus melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan mereka. Semua data progres, termasuk fisik, menit bermain, riwayat cedera, dan penampilan, dikumpulkan melalui analisis video.
“Nanti kalau sudah oke kita lihat report-nya di akhir tahun, baik dari fisiknya, dari semua menit bermainnya, cedera atau tidak, penampilannya ada video analisis kita yang ngerjain,” kata Ricky Nelson. Data ini kemudian diserahkan kepada pelatih kepala untuk dievaluasi. Pemain yang dianggap cocok akan dipertahankan, sementara yang lain bisa dipinjamkan kembali atau bahkan dijual.