Serangan terhadap fasilitas minyak di sekitar Teheran, yang dimulai sejak 28 Februari oleh Amerika Serikat dan Israel, memicu dampak serius berupa polusi ekstrem dan kabut asap tebal di ibu kota Iran. Penduduk melaporkan kondisi udara yang memburuk dengan cepat.
Kabut asap dan polusi menyelimuti kota, menghalangi sinar matahari dan meninggalkan bau menyengat di beberapa wilayah. Para ahli memperingatkan bahwa tingkat polutan yang terlepas ke udara bisa jadi belum pernah terjadi sebelumnya.
Lonjakan polusi udara ini terkonsentrasi di dekat lokasi fasilitas minyak yang rusak di sekitar Teheran, sebuah kota dengan populasi hampir 10 juta jiwa, ditambah jutaan lainnya di wilayah sekitarnya.
Serangan terhadap kilang minyak berpotensi menyebabkan polusi udara yang signifikan karena fasilitas tersebut menyimpan berbagai bahan kimia. Pembakaran minyak yang tidak sempurna dapat melepaskan karbon monoksida dan partikel jelaga ke udara. Kebakaran juga dapat melepaskan sulfur dan nitrogen oksida, yang dapat membentuk asam jika larut dalam air hujan, serta hidrokarbon berbahaya lainnya, senyawa logam, dan tetesan minyak.
Dr. Akshay Deoras, ilmuwan di Universitas Reading, menyatakan, "Apa yang terjadi di Iran jelas belum pernah terjadi sebelumnya karena semuanya berasal dari rudal yang dijatuhkan dan serangan udara terhadap kilang minyak."
Eloise Marais, profesor kimia atmosfer di University College London, sependapat. Ia mengatakan bahwa polusi semacam ini biasanya hanya terlihat dari kecelakaan industri yang sangat parah di mana seluruh kilang meledak.
Warga Teheran juga melaporkan terjadinya hujan hitam lebat. Hujan hitam merupakan istilah informal untuk air hujan yang terkontaminasi polutan, sehingga warnanya menjadi gelap. Fenomena ini langka dan biasanya disebabkan oleh tingginya kadar jelaga dan polutan lainnya.
Deoras menjelaskan, "Tetesan hujan tersebut bertindak layaknya spons kecil atau magnet, mengumpulkan apa pun yang ada di udara saat turun. Itulah sebabnya warga menyaksikan fenomena yang disebut sebagai hujan hitam."
Ada kemungkinan bahwa beberapa partikel polutan yang lebih besar berjatuhan dari udara tanpa disertai hujan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa serangan terhadap depot minyak Iran yang menyebabkan hujan hitam dapat memicu masalah pernapasan seiring menyebarnya polutan beracun di udara.
Juru bicara WHO, Christian Lindmeier, mengatakan, "Hujan hitam yang juga disebut sebagai "hujan asam," yang mengguyur Teheran jelas merupakan ancaman bahaya bagi penduduk kota tersebut."
Lindmeier menambahkan, "Kami terus berkoordinasi dengan rumah sakit dan pihak berwenang, dan otoritas Iran telah mengeluarkan peringatan yang mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan, terutama mengingat adanya serangan terhadap gudang-gudang minyak."
WHO juga tengah memantau "pelepasan besar-besaran" hidrokarbon beracun, sulfur oksida, dan senyawa nitrogen ke udara. Masing-masing senyawa ini berbahaya bagi manusia. Menghirup atau menelan hidrokarbon dapat mengakibatkan cedera serius hingga kematian.
Jubir Kantor HAM PBB, Ravina Shamdasani, memperingatkan bahwa dampak serangan terhadap fasilitas minyak ini memunculkan pertanyaan serius terkait apakah kewajiban di bawah hukum humaniter internasional telah dipenuhi dalam serangan. Ia menyebut lokasi-lokasi yang diserang tampaknya tak digunakan eksklusif untuk kepentingan militer.