Mantan pelatih AC Milan Sergio Conceicao memberikan refleksi terbuka pada Kamis (14/5/2026) mengenai masa jabatannya selama enam bulan yang penuh gejolak di San Siro. Pria asal Portugal tersebut menyoroti kurangnya perlindungan dari pihak manajemen klub yang dianggap memperburuk stabilitas di ruang ganti pemain.
Dilansir dari Bola, Conceicao resmi ditunjuk untuk menahkodai Rossoneri pada 30 Desember 2024 guna menggantikan Paulo Fonseca. Namun, perjalanannya berakhir lebih cepat setelah manajemen Milan mengaktifkan klausul pemutusan kontrak pada akhir musim 2024-2025 karena tim gagal menembus kompetisi Eropa.
Selama periode singkat tersebut, Conceicao sebenarnya berhasil mempersembahkan trofi Supercoppa Italiana hanya dalam dua laga pertamanya. Ia juga mengantarkan AC Milan hingga babak final Coppa Italia, meskipun akhirnya harus puas finis di peringkat kedelapan klasemen akhir liga.
Dalam wawancaranya bersama La Repubblica, Conceicao menjelaskan bahwa rumor pergantian pelatih seringkali muncul bahkan setelah tim meraih hasil imbang. Ia menyayangkan sikap diam manajemen yang tidak membantah spekulasi tersebut sehingga menciptakan suasana tidak kondusif bagi skuad.
"Saya sudah berada di ruang ganti selama 25 tahun dan saya tahu bahwa ketidakstabilan dari klub juga sampai ke sana. Kami sangat membutuhkan perlindungan dari klub," kata Sergio Conceicao, Mantan Pelatih AC Milan. Ia menambahkan bahwa tekanan media sosial dan hilangnya dukungan suporter garis keras di tribun semakin mempersulit keadaan.
Di tengah badai internal tersebut, Conceicao memuji profesionalisme Christian Pulisic dan Matteo Gabbia yang dianggap sebagai pemimpin sejati. Kedua pemain tersebut dinilai memberikan teladan lewat perilaku dan konsistensi performa di dalam maupun di luar lapangan pertandingan.
Pelatih yang kini telah melanjutkan kariernya bersama Al-Ittihad di Liga Pro Arab Saudi itu tetap menganggap enam bulan di Milan sebagai pengalaman positif. Ia menekankan bahwa pencapaian dua babak final dalam waktu singkat adalah hasil yang layak diapresiasi meski berakhir dengan pemecatan.