Sinyal Rebound Saham INKP: Valuasi Murah dengan Nilai Buku Rp 20.000 Mulai Dilirik Pasar

Pergerakan indeks saham sektoral yang dinamis belakangan ini kembali menempatkan saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dalam radar pantauan investor institusi maupun ritel. Setelah sempat mengalami tekanan jual yang cukup masif seiring koreksi IHSG pada akhir Januari lalu, emiten produsen kertas raksasa milik Grup Sinar Mas ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan secara teknikal maupun fundamental.

Fenomena “diskon” harga yang sudah berlangsung cukup lama nampaknya mulai dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan akumulasi bertahap. Hal ini tercermin dari lonjakan volume perdagangan dan posisi beli bersih (net buy) yang tercatat di tengah volatilitas pasar yang masih cukup tinggi. Investor mulai melihat celah antara harga pasar saat ini dengan nilai intrinsik perusahaan yang sebenarnya jauh melampaui angka perdagangan harian.

Kenaikan yang terjadi secara perlahan namun pasti ini memberikan indikasi bahwa kejenuhan jual telah tercapai. Dengan dukungan fundamental berupa perolehan laba triliunan rupiah serta valuasi yang masih berada di bawah nilai bukunya, INKP menjadi salah satu aset yang dianggap memiliki margin of safety cukup tebal bagi para pemegang saham jangka panjang di awal kuartal pertama tahun 2026 ini.

Analisis Pergerakan Harga Saham INKP dan Respon Pasar

Saham INKP menutup perdagangan di Jakarta, Rabu (11/2/2026) dengan performa yang cukup impresif. Saham ini berhasil melonjak sebesar 3,02% dan berakhir di level Rp 9.375 per lembar saham. Pergerakan ini sekaligus mengonfirmasi adanya aksi borong oleh sejumlah pemodal yang memanfaatkan momentum koreksi sehat sebelumnya.

Berdasarkan data perdagangan harian, aktivitas transaksi INKP tergolong sangat likuid. Tercatat sebanyak 6,41 juta lembar saham berpindah tangan dengan frekuensi mencapai 4.655 kali. Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 59,73 miliar. Menariknya, data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan adanya akumulasi bersih atau net buy sebesar Rp 3,5 miliar, yang menandakan kepercayaan investor kembali pulih.

Perjalanan Volatilitas INKP dalam Tiga Bulan Terakhir

Jika ditarik garis waktu yang lebih lebar, INKP sebenarnya sedang dalam tren pemulihan jangka menengah. Pada 10 November 2025, saham ini masih berada di level Rp 7.425, namun sempat terbang hingga 41% ke posisi Rp 10.525 pada 27 Januari 2026. Sayangnya, hantaman sentimen makro yang membuat IHSG longsor pada 28 Januari memaksa INKP terkoreksi hingga 11,40%.

Namun, pekan kedua Februari 2026 menjadi titik balik. Meski sempat melemah tipis -0,82% pada Selasa (10/2/2026) setelah sebelumnya menguat 3,67% di hari Senin, INKP membuktikan daya tahannya dengan rebound kuat pada hari Rabu ini. Pola “higher low” yang terbentuk memberikan harapan bagi para analis teknikal bahwa saham ini sedang membangun basis baru untuk mengejar level psikologis Rp 10.000 kembali.

Mengupas Valuasi: Mengapa INKP Disebut Saham Salah Harga?

Salah satu alasan utama mengapa INKP tetap menjadi primadona di kalangan penganut value investing adalah valuasinya yang sangat murah jika dibandingkan dengan aset yang dimiliki perusahaan. Nilai buku atau book value per saham INKP saat ini tercatat menembus angka Rp 20.500.

Perbandingan Harga Pasar vs Nilai Buku

Dengan harga perdagangan saat ini di kisaran Rp 9.375, maka rasio Price to Book Value (PBV) INKP hanya berada di angka 0,46 kali. Dalam logika investasi, saham dengan PBV di bawah 1 kali sering kali dianggap sebagai “diskon”, apalagi untuk perusahaan dengan rekam jejak profitabilitas yang konsisten seperti Indah Kiat. Selain PBV yang rendah, Price Earning Ratio (PER) INKP juga berada di level yang sangat menarik, yakni 7,19 kali secara tahunan (annualized).

Indikator Keuangan Nilai Per 11 Februari 2026
Harga Saham Terakhir Rp 9.375
Nilai Buku (Book Value) per Saham Rp 20.500
Price to Book Value (PBV) 0,46 kali
Price Earning Ratio (PER) 7,19 kali
Laba Bersih (9 Bulan 2025) Rp 5,4 Triliun (US$ 325,92 Juta)
Total Net Buy (Harian) Rp 3,5 Miliar

Kinerja Operasional dan Prospek Industri Pulp & Paper

Ketahanan fundamental INKP didorong oleh kinerja operasional yang solid. Hingga periode September 2025 (9 bulan), perseroan berhasil mengantongi laba bersih sebesar US$ 325,92 juta atau setara dengan Rp 5,4 triliun. Capaian laba ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk kertas dan kemasan global tetap stabil, meskipun terjadi fluktuasi harga komoditas pulp di pasar internasional.

Dukungan Ekspansi Kapasitas Produksi

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, INKP terus melakukan penguatan melalui pembangunan pabrik kertas industri dan infrastruktur pendukungnya di Karawang, Jawa Barat. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan guna memenuhi permintaan pasar ekspor yang terus bertumbuh, terutama di kawasan Asia dan Eropa yang mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan berbahan dasar kertas.

Pihak manajemen dalam beberapa kesempatan Public Expose sebelumnya menekankan pentingnya efisiensi biaya energi dan logistik untuk menjaga margin keuntungan. Penggunaan teknologi terbaru dalam proses produksi diharapkan mampu menekan biaya operasional sehingga laba bersih tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global.

Pandangan Otoritas dan Pengamat Pasar Modal

Analis pasar modal seringkali menyoroti bahwa saham seperti INKP memerlukan katalis positif dari sisi makroekonomi, seperti penguatan nilai tukar rupiah dan penurunan suku bunga, untuk mempercepat apresiasi harga sahamnya. Mengingat sebagian besar pendapatan perusahaan berasal dari ekspor dalam mata uang dolar AS, stabilitas kurs menjadi faktor krusial bagi kinerja bottom line perusahaan.

Dikutip dari laporan riset beberapa sekuritas di Jakarta, Rabu (11/2/2026), sektor basic materials, khususnya sub-sektor kertas, masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas. “Valuasi INKP yang sangat rendah di bawah 0,5x PBV memberikan bantalan yang cukup kuat bagi investor. Risiko penurunan cenderung terbatas dibandingkan potensi kenaikannya jika melihat aset dan laba yang dihasilkan secara konsisten,” tulis salah satu riset harian anggota bursa.

Meskipun demikian, investor tetap disarankan untuk memantau pergerakan harga komoditas pulp dunia dan volume permintaan dari China, yang merupakan salah satu pasar ekspor utama bagi produk-produk Indah Kiat. Akumulasi bertahap pada area support menjadi strategi yang banyak direkomendasikan oleh para praktisi pasar saat ini.

Dikutip dari investor.id di Jakarta, Rabu (11/2/2026)

Recommended