Stok Rudal Amerika Serikat Menipis Akibat Perang Melawan Iran

Laporan CSIS menunjukkan cadangan rudal Amerika Serikat merosot tajam hingga 50 persen setelah tujuh minggu pertempuran intensif melawan Iran pada 2026.

Inventaris rudal utama militer Amerika Serikat mengalami penyusutan drastis pada Rabu, 22 April 2026, setelah keterlibatan intensif dalam konflik bersenjata melawan Iran selama tujuh pekan terakhir. Analisis terbaru menunjukkan Washington berisiko menghadapi kelangkaan amunisi untuk menghadapi potensi konflik di masa depan.

Berdasarkan data Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dilansir dari Detik iNET, militer AS telah menghabiskan sedikitnya 45 persen cadangan Rudal Serang Presisi (PrSM). Penurunan signifikan juga terjadi pada stok pencegat rudal balistik THAAD yang berkurang separuh dan sistem pertahanan udara Patriot yang tersisa sekitar 50 persen.

Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai kesiapan tempur AS jika harus menghadapi kekuatan militer yang setara seperti China. Analisis CSIS menyimpulkan bahwa pengisian kembali gudang senjata hingga ke level sebelum perang memerlukan waktu bertahun-tahun akibat kendala kapasitas produksi.

Laporan tersebut merinci bahwa sekitar 30 persen stok rudal Tomahawk dan lebih dari 20 persen rudal jarak jauh Joint Air-to-Surface Standoff Missiles (JASSM) telah digunakan. Selain itu, cadangan rudal SM-3 dan SM-6 juga mengalami pengurangan sebesar 20 persen dalam operasi militer tersebut.

Pentagon telah menandatangani sejumlah kontrak ekspansi produksi awal tahun ini untuk mengatasi krisis tersebut. Namun, para ahli memperingatkan bahwa proses manufaktur dan pengiriman sistem pengganti membutuhkan waktu antara tiga hingga lima tahun, meskipun kapasitas pabrik sudah ditingkatkan.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan kepada CNN bahwa militer AS tetap memiliki kemampuan untuk menjalankan operasi sesuai instruksi Presiden. Ia menegaskan bahwa persenjataan yang ada saat ini masih cukup tangguh untuk melindungi kepentingan nasional dan rakyat Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump sendiri telah mengajukan permintaan dana tambahan kepada pemerintah untuk pengadaan rudal baru. Meskipun meminta anggaran ekstra, Trump sempat mengeklaim bahwa stok persenjataan kelas atas milik AS masih memadai dan sengaja dicadangkan.

"Kami memintanya (dana tersebut) untuk banyak alasan, bahkan di luar apa yang kita bicarakan di Iran," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa kepemilikan amunisi yang melimpah adalah harga yang harus dibayar untuk memastikan posisi AS tetap berada di puncak kekuatan dunia.

Di sisi lain, Senator Mark Kelly dari Arizona menyoroti tantangan logistik dalam menghadapi Iran yang memiliki produksi massal drone Shahed dan rudal balistik. Menurutnya, kemampuan AS untuk memasok kembali amunisi pertahanan udara akan menjadi masalah matematis yang krusial jika perang terus berlanjut.

Recommended