Sebuah torpedo Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menghantam dan menghancurkan kapal perang Iran di perairan internasional, tepatnya di lepas pantai selatan Sri Lanka. Serangan ini menyoroti kemampuan dan dominasi maritim AS.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut serangan itu sebagai "kematian yang sunyi". Hegseth menyatakan bahwa kapal selam AS berhasil menenggelamkan kapal perang Iran yang merasa aman di perairan internasional.
Senjata yang digunakan dalam serangan ini adalah torpedo Mark 48 Advanced Capability (ADCAP). Thomas Shugart, peneliti dari Center for a New American Security, menjelaskan bahwa "Mark 48 adalah salah satu senjata anti kapal paling mematikan dalam inventaris AS," dikutip dari Fox News.
Torpedo Mark 48 dirancang untuk meledak di bawah kapal, bukan menabraknya secara langsung. Ledakan tersebut menciptakan gelembung uap besar yang mematahkan badan kapal menjadi dua. Hulu ledak yang dibawa torpedo ini seberat 290 kg.
Torpedo ini biasanya diluncurkan dari kapal selam serang AS, termasuk kelas Virginia dan Los Angeles. Tidak ada informasi spesifik mengenai kapal selam mana yang meluncurkan torpedo tersebut. "Torpedo ini meledak di bawah buritan kapal Iran dan mengangkatnya keluar dari air, sehingga kapal tenggelam dalam hitungan menit," imbuh Shugart.
Dengan harga sekitar USD 4,2 juta (sekitar Rp 70 miliar) per unit, Shugart menilai serangan ini sebagai insiden langka dalam sejarah angkatan laut modern. Selain Perang Dunia II, Perang Falkland tahun 1982 menjadi contoh penggunaan torpedo kapal selam untuk menenggelamkan kapal tempur besar.
"Ini adalah kali kedua dalam sejarah di mana sebuah kapal selam bertenaga nuklir menembakkan torpedo dan menenggelamkan kapal. Satu-satunya waktu lain hal itu terjadi adalah oleh kapal selam Inggris bernama HMS Conqueror, yang dengan cara serupa menenggelamkan kapal penjelajah Argentina, General Belgrano, selama Perang Falkland tahun 1982," tambahnya.
Menurut Shugart, operasi ini dirancang untuk mengirim pesan tentang kekuatan maritim AS. "Bagi saya, ini jelas terlihat seperti sebuah pesan bahwa AS benar-benar tidak lagi menahan diri," tambahnya.
Kapal yang menjadi target adalah IRIS Dena, fregat terbaru dalam armada angkatan laut Iran. Kapal ini dilengkapi dengan berbagai persenjataan, termasuk rudal darat ke udara, rudal anti kapal, dan peluncur torpedo. Shugart juga menyinggung kemampuan kapal selam Iran.
"Saya tidak yakin Iran masih memiliki kapal selam operasional, tapi jika masih beroperasi, kapal selam terbesar setidaknya sudah berusia 20 atau 30 tahun. Kapal-kapal itu kemungkinan kapal selam diesel-elektrik bekas Rusia, jadi tidak bertenaga nuklir seperti milik AS, dengan komunikasi satelit dan mobilitas tanpa batas," pungkas Shugart.