Tottenham Hotspur menghadapi mimpi buruk di musim 2025/26 dengan ancaman degradasi yang semakin nyata. Sementara itu, rival sekota mereka, Arsenal, masih berjuang di puncak klasemen Premier League.
Dengan sisa 11 pertandingan, Spurs hanya berjarak empat poin dari zona degradasi. Mereka juga belum meraih kemenangan liga sepanjang tahun 2026, hanya mengumpulkan empat poin dari sembilan laga. Jika tren ini berlanjut, tim London Utara ini bisa terlempar ke Championship.
Di sisi lain, Arsenal masih berpeluang meraih trofi di empat kompetisi berbeda musim ini.
Situasi kontras ini memicu perdebatan di talkSPORT. Pertanyaan yang diajukan adalah, jika Spurs terdegradasi tetapi Arsenal gagal meraih satu pun trofi, siapa yang menjalani musim lebih memalukan?
Majestic menjawab singkat, "Spurs terdegradasi."
Namun, Sonny Snelling memiliki pandangan berbeda. "Menurut saya Arsenal," katanya. "Tidak dapat apa-apa setelah semua yang mereka lakukan… mereka memimpin di Liga Champions, memimpin Liga Inggris, masuk final Carabao Cup dan tampil bagus di Piala FA, lalu tidak memenangkan apa pun."
Snelling menambahkan bahwa degradasi Spurs sebenarnya sudah terasa akan terjadi sejak Mauricio Pochettino pergi. Kepergian Harry Kane dan Heung-min Son juga memperburuk situasi.
Snelling juga menyinggung komentar Gary Neville yang menyebut degradasi Spurs akan menjadi kejutan terbesar dalam sejarah Premier League. Menurutnya, jika Arsenal gagal meraih trofi, mereka akan menyesali peluang yang terlewat.
Dari Liga Europa ke Ancaman Degradasi
Musim lalu, Spurs finis di posisi ke-17 meskipun menjuarai Liga Europa. Setelah memecat Ange Postecoglou, mereka menunjuk Thomas Frank yang hanya bertahan beberapa bulan sebelum digantikan Igor Tudor.
Gelar Liga Europa mengakhiri puasa trofi selama 17 tahun. Namun, dalam rentang waktu tersebut, Spurs kalah di dua final Piala Liga, satu final Liga Champions, dan sempat menjadi runner-up Premier League.
Majestic mengkritik Arsenal karena menciptakan standar kesuksesan berdasarkan trofi. Ia menambahkan bahwa di era Pochettino, meskipun tanpa trofi, tim tetap merasa sukses dan kompetitif.
Abbi Summers menyoroti ekspektasi yang meningkat berkat pekerjaan Pochettino, yang membuat Spurs menjadi tim papan atas dan diperhitungkan.
Degradasi yang Tak Terpikirkan
Menurut Summers, degradasi bagi Tottenham akan menjadi kejutan luar biasa. Ia membandingkannya dengan Leicester City yang menjuarai liga setelah promosi, tetapi menekankan bahwa Spurs adalah tim Premier League yang seharusnya menjadi bagian dari "big six".
Summers berpendapat bahwa Spurs tidak siap untuk menghadapi Championship, baik dari segi kepemilikan klub, struktur, maupun pemain. Ia meragukan kemampuan mereka untuk langsung promosi kembali dan menekankan bahwa klub tidak memahami situasi seperti itu.
Summers juga menyoroti perbedaan dengan klub seperti Aston Villa atau Newcastle yang lebih siap untuk bertarung di Championship ketika terdegradasi.
"Lihat saja sekarang. Untuk bertahan saat ini saja, kami tidak benar-benar tahu caranya," pungkas Summers.
Sumber: Talksport