Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Hermanu Triwidodo, menyarankan petani melakukan langkah preemtif massal guna mengantisipasi lonjakan serangan hama padi akibat fenomena El Nino Godzilla pada Kamis, 16 April 2026. Strategi ini difokuskan pada pemusnahan kelompok telur penggerek di fase persemaian untuk menjaga keseimbangan ekosistem sawah.
Ancaman kemarau panjang akibat El Nino Godzilla diperkirakan melanda Indonesia mulai April hingga Oktober 2026. Dilansir dari Medcom, fenomena iklim ekstrem tersebut berpotensi memicu ledakan populasi hama penggerek batang padi dan wereng batang cokelat (WBC) di berbagai pusat produksi pangan nasional.
Hermanu menjelaskan bahwa penguatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui pencegahan dini jauh lebih ekonomis dibandingkan penanganan pasca-ledakan. Pengumpulan kelompok telur pada awal musim tanam menjadi kunci utama untuk menekan populasi awal organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tersebut.
Metode yang ditawarkan mencakup penggunaan alat sederhana dari botol mineral bekas untuk mengambil telur hama di area persemaian. Langkah praktis ini dinilai efektif karena satu kelompok telur penggerek yang berisi sekitar 50 butir mampu merusak hingga 300 malai padi atau setara 1,2 kg gabah kering panen (GKP).
Berdasarkan hitungan ekonomi, pemusnahan satu kelompok telur dapat mencegah kerugian petani sekitar Rp8.125, dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram. Hermanu juga memperingatkan risiko serangan WBC yang dapat menyebabkan gagal panen total dalam waktu singkat serta penyebaran virus kerdil.
"Apabila bisa menahan populasi dari awal, maka ekosistem sawah tetap seimbang," ujar Hermanu Triwidodo, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University. Menurutnya, pendekatan ini juga dapat menekan penggunaan insektisida kimia secara signifikan di tingkat lahan pertanian.
Guna memaksimalkan gerakan ini, Hermanu mendorong skema partisipatif yang melibatkan masyarakat dan pelajar melalui pemberian insentif mulai Rp500 hingga Rp2.000 per kelompok telur. Program edukatif ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap sektor pertanian sekaligus mengamankan produksi pangan nasional selama kemarau panjang.