Anak Indonesia Suarakan Solusi Kekerasan di Forum Internasional Filipina

Anak-anak dampingan Wahana Visi Indonesia menyuarakan realitas kekerasan anak dan tantangan digital dalam forum internasional di Filipina, Jumat (8/5/2026).

Delegasi anak Indonesia dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) memaparkan realitas kekerasan fisik hingga digital dalam forum internasional bertajuk Violence Ends With Us di Antipolo, Filipina, pada Jumat, 8 Mei 2026. Pertemuan ini bertujuan merumuskan agenda solusi yang akan dibawa ke pertemuan tingkat menteri se-Asia Pasifik.

Dilansir dari Medcom, laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan urgensi isu ini dengan catatan 2.031 kasus pelanggaran hak anak sepanjang tahun 2025. Kasus yang mendominasi meliputi perkawinan usia dini, kekerasan seksual, hingga eksploitasi anak di ranah daring.

Siti, perwakilan anak dari Lombok Timur, menyoroti praktik tradisi merariq kodeq yang memicu tingginya angka perkawinan anak akibat tekanan ekonomi dan norma sosial. Dampak dari kondisi tersebut menyebabkan banyak anak kehilangan akses pendidikan serta mengalami tekanan mental yang berkepanjangan.

"Tantangan yang kami alami saat mencoba menyuarakan pendapat, adalah minimnya dukungan dan perhatian dari orang dewasa, mereka memandang kami sebelah mata," kata Siti, anak dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI).

Selain masalah perkawinan, ancaman kekerasan berbasis digital atau Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) menjadi sorotan utama. Nazwha, peserta dari Jakarta, mengungkapkan maraknya pelecehan, manipulasi, dan ancaman seksual di media sosial serta platform gim daring.

Kurangnya literasi digital dan tidak adanya mekanisme pelaporan yang jelas membuat banyak korban enggan bersuara. Nazwha mendorong pemerintah untuk segera membangun sistem hukum yang lebih responsif dan menyediakan layanan pemulihan mental bagi anak-anak korban kekerasan digital.

National Director Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora, menegaskan bahwa partisipasi anak merupakan bagian krusial dalam menyusun kebijakan perlindungan yang berkelanjutan. Ia menyebut anak-anak bukan sekadar objek kebijakan, melainkan pemegang hak yang memiliki perspektif solusi nyata.

Para peserta forum saat ini tengah mengembangkan gagasan aksi melalui diskusi tematik dan youth-led hackathon. Hasil rumusan ini dijadwalkan akan dipresentasikan secara resmi pada Konferensi Menteri Global ke-2 tentang Mengakhiri Kekerasan terhadap Anak yang berlangsung November 2026 di Manila.

Recommended