Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengajukan permintaan resmi pengerahan rudal hipersonik rahasia berjuluk Dark Eagle ke kawasan Timur Tengah pada Mei 2026. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi serangan terhadap target strategis di dalam wilayah Iran yang berada di luar jangkauan sistem pertahanan udara saat ini.
Dilansir dari Detik iNET, Centcom mengajukan pengerahan tersebut kepada Departemen Perang setelah intelijen mendeteksi pergerakan peluncur rudal balistik Iran. Aset militer Iran tersebut dilaporkan telah dipindahkan ke lokasi yang sulit dijangkau oleh Precision Strike Missile milik militer Amerika Serikat.
HIMARS, yang biasanya mengandalkan rudal balistik supersonik, dinilai tidak lagi efektif untuk menjangkau posisi terbaru aset Iran tersebut. Jika permintaan ini disetujui, pengerahan ini akan menjadi momen pertama bagi senjata Dark Eagle untuk dioperasikan dalam medan konflik yang sesungguhnya.
Laporan dari Middle East Eye menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah menerima pengarahan komprehensif mengenai rencana serangan baru ini. Serangan tersebut direncanakan menyasar infrastruktur penting Iran sebagai respons atas kegagalan negosiasi perdamaian yang menemui jalan buntu.
Dark Eagle merupakan sistem senjata yang secara resmi dikenal sebagai Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW). Rudal ini dirancang untuk melakukan serangan presisi terhadap target yang dijaga ketat serta memiliki sensitivitas waktu tinggi, melampaui kemampuan rudal balistik tradisional.
Keunggulan utama Dark Eagle terletak pada kemampuannya meluncur dengan kecepatan melebihi Mach 5 atau lima kali kecepatan suara. Kemampuan manuver di tengah penerbangan membuat rudal ini sangat sulit untuk dilacak atau dicegat oleh sistem pertahanan udara musuh mana pun.
Rudal ini dilaporkan memiliki daya jangkau operasional mencapai 2.700 kilometer yang memungkinkan penetrasi jauh ke dalam wilayah lawan. Target utamanya mencakup pusat komando, situs peluncuran rudal, serta sistem pertahanan udara yang bernilai strategis tinggi.
Meskipun memiliki teknologi mutakhir, sistem Dark Eagle saat ini dikabarkan belum beroperasi secara penuh dan memiliki jumlah unit yang sangat terbatas. Setiap unit rudal hipersonik ini diperkirakan memiliki nilai produksi mencapai USD 15 juta.
Keputusan penggunaan Dark Eagle juga dipicu oleh insiden jatuhnya jet tempur F-15E Strike Eagle milik AS yang ditembak jatuh oleh pertahanan udara Iran awal bulan ini. Insiden tersebut membuktikan bahwa klaim superioritas udara Amerika Serikat di langit Iran masih menghadapi tantangan serius.
Sejumlah analis militer menilai bahwa meski Dark Eagle meningkatkan kapabilitas serangan jarak jauh, jumlahnya yang minim belum tentu menjadi penentu mutlak hasil peperangan. Hingga saat ini, status operasional penuh dari senjata hipersonik tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari otoritas pertahanan Amerika Serikat.