Pakar Astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Thomas Djamaluddin, memberikan klarifikasi pada Rabu (29/4/2026) terkait narasi di media sosial yang menyebut kedatangan El Nino dapat merenggut nyawa manusia secara langsung.
Thomas menegaskan bahwa meskipun El Nino diprediksi akan mulai melanda pada pertengahan tahun 2025 dan berlanjut ke 2026, fenomena ini tidak memiliki dampak mematikan bagi manusia maupun hewan dalam waktu singkat. Penjelasan ini disampaikan guna meluruskan kekhawatiran publik akibat informasi yang tidak akurat.
Dilansir dari Detik iNET, dampak utama dari El Nino adalah memicu musim kemarau yang jauh lebih panjang serta kondisi udara yang lebih kering dari biasanya. Thomas mengimbau masyarakat untuk lebih mengantisipasi risiko kebakaran hutan daripada ketakutan terhadap penyakit atau kematian mendadak.
"Tetapi El Nino tidak membahayakan secara langsung kepada kehidupan, manusia atau hewan," kata Thomas Djamaluddin melalui akun media sosial resminya. Ia menambahkan bahwa kondisi terik matahari memang akan terjadi, namun tidak menyebabkan sakit kronis secara langsung.
Memasuki tahun 2026, para ilmuwan memprediksi adanya potensi fenomena 'Super' El Nino yang lebih kuat. Berdasarkan analisis data suhu global, tahun ini diperkirakan akan menjadi salah satu periode terpanas dalam catatan sejarah dunia.
Lembaga analisis lingkungan Carbon Brief melaporkan bahwa peningkatan suhu global diperkirakan terjadi sepanjang tahun akibat pemanasan di wilayah Pasifik tropis. Pemanasan ini memicu gangguan pola cuaca global termasuk kekeringan parah hingga gelombang panas laut.
Model iklim terbaru menunjukkan adanya estimasi median pemanasan sebesar 2,2 derajat Celsius pada September 2026 mendatang. Angka tersebut secara teknis menempatkan kondisi bumi berada dalam skenario wilayah 'super' El Nino yang berdampak signifikan pada lingkungan global.