Dedi Kusnandar dan Peran Ayah di Balik Karier Sepak Bolanya

Dedi Kusnandar berterima kasih kepada ayahnya atas dukungan yang membawanya menjadi pemain sepak bola profesional dan menembus Timnas Indonesia.

Di balik kesuksesan Dedi Kusnandar sebagai pesepak bola, ada peran besar dari sang ayah. Dukungan dan perhatian almarhum ayahnya menjadi motivasi utama bagi Dedi untuk mencapai level tertinggi dalam kariernya.

Dedi Kusnandar, yang kini berusia 34 tahun, pernah memperkuat klub-klub besar Indonesia seperti Persib Bandung, Arema FC, Persebaya Surabaya, dan Bhayangkara FC. Ia juga sempat bermain di Liga Malaysia bersama Sabah FC.

Berkat bakat dan performanya, Dedi Kusnandar berhasil menembus Timnas Indonesia, mulai dari U-17, U-23, hingga tim senior.

Dedi mengaku berasal dari keluarga yang sangat mencintai sepak bola, terutama Persib Bandung. Kecintaan ini yang kemudian menular padanya dan memotivasinya untuk menjadi pemain sepak bola.

"Iya, pas kecil ingin jadi pemain bola. Apalagi keluarga dari passion-nya sepak bola. Sudah didoktrinlah. Apalagi dulu bapak pemain sepak bola juga. Kalau ada pertandingan sering diajak ke lapangan. Terus nonton Persib," kata Dedi.

Ayahnya, menurut Dedi, pernah mengikuti seleksi pemain Persib, namun tidak berhasil. Meski begitu, sang ayah tetap berharap salah satu anaknya kelak bisa bermain untuk Persib.

"Sehari-hari ya main bola. Apalagi bapak dulu penah ikut seleksi pemain Persib. Dia angkatan Yusuf Bachtiar, Robby Darwis. Tapi enggak pernah masuk. Jadi mungkin karena bapak enggak jadi pemain profesional, anak-anaknya didoktrinlah supaya jadi pemain bola," ujar Dedi.

Harapan sang ayah sangat besar melihat potensi Dedi dan saudara-saudaranya. Ia sering mengajak Dedi ke Stadion Siliwangi untuk menyaksikan Persib bertanding.

"Saya diajak ke Stadion Siliwangi. Dia pernah ngomong,'Ded, saya kepengin lihat nanti suatu saat main di situ'. Makanya dia selalu mendukung, walaupun enggak ambisius. Tapi almarhum bercita-cita kepingin salah satu anaknya bermain di liga dan ya, Alhamdulillah, salah satunya kecapaian," tutur Dedi Kusnandar.

Keputusan ayahnya untuk tidak selalu mengantar Dedi saat berlatih sepak bola di Bandung, yang berjarak cukup jauh dari Jatinangor, ternyata merupakan bagian dari ujian mental.

"Ternyata, dia menguji. Gimana serius enggak mau jadi pemain sepak bola. Lebih ke situ sih. Tapi setelah ikut kompetisi, ikut kejuaraan, orang tua sudah mulai mengantar. Sampai ke usia senior pun enggak terlewatkan nonton ke stadion," pungkasnya.

Recommended