Iran Ancam Targetkan Pemegang Obligasi Treasury AS

Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel meningkat. Iran mengancam akan menargetkan pemegang obligasi Treasury AS dan lembaga keuangan.

Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel semakin meningkat. Terbaru, Iran memperluas ancamannya dengan menyasar para pemegang obligasi Treasury AS serta lembaga keuangan yang dianggap mendanai militer AS.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui unggahan di media sosial pada Minggu (22/3), menyatakan bahwa lembaga keuangan yang terafiliasi dengan AS dan memegang obligasi pemerintah Amerika akan menjadi target, bersamaan dengan pangkalan militer.

"Obligasi pemerintah AS berlumuran darah rakyat Iran. Membelinya berarti membeli serangan terhadap markas besar dan aset mereka," kata Ghalibaf, dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026).

Ghalibaf menambahkan bahwa entitas keuangan yang membiayai anggaran militer AS juga menjadi target yang sah, selain pangkalan militer.

Ancaman ini muncul setelah ultimatum 48 jam yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump kepada Teheran pada Sabtu (21/3), untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur logistik utama komoditas energi global.

Jika Selat Hormuz tidak dibuka, Iran menghadapi ancaman serangan terhadap pembangkit listriknya. Batas waktu ultimatum tersebut berakhir pada Senin malam waktu Washington.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungannya terhadap ancaman AS. "Apa pun yang kami lakukan, kami lakukan bersama, dan sejauh mungkin, dengan penuh kepercayaan," ujar Netanyahu.

Netanyahu, saat berbicara di lokasi serangan rudal Iran di kota Arad, menyerukan para pemimpin dunia, termasuk negara-negara Eropa, untuk bergabung dalam upaya perang. Menurutnya, Iran memiliki kemampuan untuk menyerang jauh ke Eropa dan menargetkan semua pihak.

Iran memberikan perlawanan dengan mengancam akan menutup total jalur air dan menyerang infrastruktur energi serta fasilitas desalinasi di Teluk jika AS menindaklanjuti ultimatumnya.

Ghalibaf memperingatkan bahwa setiap serangan AS atau Israel terhadap pembangkit listrik Iran akan memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah, yang berpotensi menyebabkan kerusakan yang sulit dipulihkan.

"Infrastruktur penting dan infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai target yang sah dan akan hancur secara permanen, dan harga minyak akan naik untuk waktu yang lama," kata Ghalibaf di X.

Aktivitas militer meningkat sepanjang akhir pekan, dengan laporan yang menunjukkan bahwa Israel mengalami aktivitas rudal yang intens, memicu peringatan bagi warga untuk berlindung di wilayah Yerusalem dan Israel tengah.

Iran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar lalu lintas kapal sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Konflik Timur Tengah yang meningkat telah mendorong harga minyak naik dalam beberapa pekan terakhir karena kekhawatiran akan gangguan pasokan, memicu kekhawatiran inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi.

Harga minyak mentah berfluktuasi dalam perdagangan yang volatil pada Senin. Brent naik 0,44% menjadi US$ 112,68 per barel pada pukul 22:57 EST, setelah sebelumnya mengalami penurunan. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 0,78% menjadi US$ 99 per barel.

Recommended