Sebuah unit taksi listrik Green SM mogok di perlintasan sebidang Bekasi Timur dan memicu kecelakaan beruntun yang melibatkan KRL Commuter Line serta KA Argo Bromo Anggrek pada Senin, 27 April 2026 malam.
Insiden bermula saat kendaraan operasional asal Vietnam tersebut terhenti di tengah rel, yang kemudian dihantam oleh rangkaian KRL hingga menyebabkan perjalanan kereta lain di jalur yang sama terganggu dan berujung pada tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek.
Dilansir dari Medcom, peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan yang melibatkan armada Green SM, termasuk insiden serupa di Sawah Besar pada 31 Desember 2025 ketika sebuah unit menerobos palang pintu perlintasan.
Kompilasi kecelakaan yang melibatkan perusahaan taksi ini menjadi perbincangan luas di media sosial, mencakup berbagai skala mulai dari terperosok ke selokan, tersangkut di separator busway, hingga kecelakaan fatal di pelintasan kereta api.
Sorotan publik terhadap rentetan kejadian ini mendorong pemeriksaan kembali terhadap sistem rekrutmen perusahaan yang mensyaratkan pengemudi berusia 21 hingga 55 tahun dan memiliki SIM A Umum.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Green SM, calon pengemudi diwajibkan mengikuti tes berkendara (On the Job Training/OJT) serta uji pengetahuan rute dan peraturan lalu lintas sebelum dinyatakan lolos seleksi.
Perusahaan juga menetapkan kriteria fisik seperti penampilan rapi, larangan tindik bagi pria, serta kewajiban menjalani pemeriksaan kesehatan mandiri bagi pelamar yang telah melewati tahap wawancara langsung.
Selain aspek teknis, perusahaan menjanjikan potensi penghasilan hingga Rp8 juta per bulan beserta skema bonus dan perlindungan asuransi sosial bagi para pengemudinya guna menjamin kualitas pelayanan.
Manajemen Green SM kini didorong untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kompetensi keselamatan berkendara (safety driving) para mitra pengemudi mereka guna mencegah terulangnya kecelakaan di masa mendatang.