Dua seri pembuka Formula 1 (F1) di Timur Tengah, yakni Grand Prix (GP) Bahrain dan GP Arab Saudi, terancam batal akibat konflik yang memanas di kawasan Teluk.
Keputusan resmi mengenai kelanjutan dua seri tersebut diperkirakan akan diumumkan pada akhir pekan ini. Informasi ini diperoleh dari paddock F1 di Shanghai.
Kedua balapan sebenarnya sudah dalam status tidak pasti sejak 28 Februari lalu. Hal ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan setelah serangan gabungan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pembatalan balapan F1 bukan hanya soal keamanan. Ada juga pertimbangan komersial dan logistik yang kompleks.
Promotor Arab Saudi sangat berharap balapan di Jeddah tetap bisa berjalan. Namun, dengan situasi kawasan yang belum stabil dan gangguan pada perjalanan udara, keputusan mendesak harus segera diambil.
Keputusan ini penting agar tim, sponsor, dan pihak terkait lainnya dapat mengatur ulang perjalanan personel dan pengiriman logistik.
Ribuan tiket penerbangan dan pemesanan hotel berpotensi dibatalkan jika kedua balapan tersebut benar-benar dibatalkan.
Salah satu tenggat penting adalah pengiriman kargo F1 yang awalnya dijadwalkan dari Jepang (setelah balapan di Suzuka) menuju Bahrain dan Jeddah. Kini, kargo tersebut kemungkinan besar akan langsung dialihkan ke Miami.
Tantangan Pengiriman Peralatan Tim
Mengubah rute logistik di F1 bukanlah hal yang mudah. Ribuan ton peralatan harus dipindahkan dengan koordinasi yang sangat detail.
Saat ini, masih didiskusikan apakah kargo akan langsung dikirim ke Miami atau disimpan sementara di fasilitas khusus dengan pengatur suhu sebelum dikirim ke Amerika Serikat.
Tim juga memiliki opsi untuk membawa pulang sasis mobil ke markas di Eropa untuk servis sebelum dikirim kembali ke Miami. Namun, langkah ini akan masuk dalam perhitungan batas anggaran (cost cap).
Peralatan untuk Formula 2 (F2) dan Formula 3 (F3) saat ini masih berada di Melbourne. Kedua seri junior ini awalnya dijadwalkan balapan di Bahrain, dengan F2 juga direncanakan lanjut ke Jeddah.
Belum ada kepastian apakah balapan yang hilang akan diganti. Penggantian kemungkinan besar akan dilakukan, mengingat para pembalap telah membayar penuh untuk satu musim kompetisi.
Peralatan Tertahan di Timur Tengah
Situasi semakin rumit karena sebagian peralatan tim sudah berada di Timur Tengah sejak sesi tes pramusim di Sakhir, Bahrain.
Garasi tim bahkan masih terpasang sepenuhnya di sirkuit tersebut. Beberapa tim, seperti McLaren dan Mercedes, serta pemasok ban Pirelli, juga meninggalkan lebih banyak peralatan setelah rencana tes ban dibatalkan akibat konflik.
Sebagian perlengkapan lain juga sudah berada di Jeddah, meskipun masih dalam peti kemasan sehingga lebih mudah dikirim ke lokasi lain.
Tim F1 biasanya menggunakan beberapa set kargo laut yang bergerak bergantian ke berbagai belahan dunia sepanjang musim. Karena sebagian set tersebut kini tertahan di Timur Tengah, tim harus menyusun ulang rencana logistik untuk seri-seri berikutnya.
Tim F1 Mengikuti Arahan FIA dan F1
Dengan potensi pembatalan dua balapan, tim F1 akan memiliki waktu sekitar satu bulan penuh di markas mereka. Waktu ini dapat dimanfaatkan untuk riset, analisis data dari tiga balapan awal, dan pengembangan mobil.
Para pembalap juga memiliki waktu lebih panjang untuk menjalani simulasi di simulator tim.
Komponen pembaruan mobil yang semula direncanakan untuk diperkenalkan di Bahrain atau Jeddah kemungkinan akan ditunda hingga seri Miami.
Bos tim Audi, Jonathan Wheatley, menegaskan bahwa tim akan mengikuti arahan FIA dan Formula 1 terkait situasi tersebut.
"Kami selalu mengikuti arahan FIA dan Formula 1 seperti biasanya. Mereka selalu membawa kami ke arah yang tepat," kata Wheatley.
“Tidak ada pihak yang ingin mengambil risiko yang membuat tim berada dalam situasi yang tidak nyaman. Logistik memang bagian besar dari bisnis ini, bukan hanya soal komponen tetapi juga pergerakan orang di seluruh dunia,” lanjutnya.
Menurut Wheatley, tim F1 sudah terbiasa beradaptasi jika ada perubahan jadwal.