Kuba Alami Pemadaman Listrik Usai Sinyal Serangan Trump

Dua pertiga wilayah Kuba, termasuk Havana, mengalami pemadaman listrik besar setelah sinyal serangan dari Presiden AS Donald Trump.

Pemadaman listrik meluas melanda Kuba, memengaruhi dua pertiga wilayah negara itu, termasuk ibu kota Havana. Situasi ini terjadi bersamaan dengan sinyal dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kemungkinan serangan terhadap negara tersebut, pasca-konflik dengan Iran.

Menurut laporan Al Jazeera pada Jumat (6/3/2026), penyebab utama pemadaman adalah kerusakan pada Antonio Guiteras Power Plant, salah satu fasilitas pembangkit listrik terbesar di Kuba. Lokasinya sekitar 100 km sebelah timur Havana, dan memiliki peran penting dalam mendistribusikan energi dari Pinar del Rio di barat hingga provinsi Las Tunas di timur.

Kekurangan pasokan listrik sebenarnya sudah menjadi masalah lama di Kuba. Infrastruktur pembangkit yang usang dan rentan terhadap kerusakan, ditambah dengan keterbatasan bahan bakar, menyebabkan pemadaman listrik yang sering terjadi, bahkan bisa mencapai 20 jam setiap hari di beberapa daerah.

Keadaan ini diperburuk oleh berkurangnya pasokan minyak dari Venezuela, setelah perintah penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Donald Trump pada Januari lalu. Venezuela memasok sekitar 50% kebutuhan bahan bakar Kuba.

Pemerintah AS juga memberlakukan embargo minyak terhadap Havana setelah insiden penculikan Maduro. Kebijakan ini semakin membatasi pengiriman energi ke negara Karibia tersebut.

Kelangkaan bahan bakar memaksa pemerintah Kuba melakukan penjatahan layanan penting, termasuk pengumpulan sampah dan transportasi umum.

Trump kembali mengancam pemerintah Kuba, mengisyaratkan kemungkinan aksi militer AS setelah menyelesaikan konflik dengan Iran.

Ancaman ini disampaikan saat Trump berbicara di Gedung Putih pada Kamis (5/3), saat menerima kunjungan tim sepak bola Inter Miami, juara Major League Soccer 2025. Ia membanggakan keberhasilan perang di Iran, dan mengklaim bahwa militer AS dan Israel akan terus menghancurkan musuh sepenuhnya.

"Kami pikir kami ingin menyelesaikan yang ini (perang Iran) terlebih dahulu, tetapi itu hanya masalah waktu, sebelum Anda dan banyak orang luar biasa akan kembali ke Kuba," kata Trump di hadapan hadirin yang didominasi warga Miami, termasuk keturunan Kuba.

Recommended