Musim Dingin Perburuk Kondisi Anak-Anak Gaza di Tengah Konflik

Banjir dan suhu dingin memperparah kondisi anak-anak di Gaza yang sedang mengalami konflik, menyebabkan berbagai penyakit.

Kondisi anak-anak di Gaza semakin memprihatinkan akibat banjir dan suhu dingin yang melanda wilayah tersebut di tengah konflik yang sedang berlangsung. Kedinginan memicu berbagai penyakit di kalangan anak-anak.

Suhu udara di Gaza pada periode Januari hingga Maret dapat mencapai 12 derajat Celcius di siang hari. Bagi ratusan ribu anak yang mengungsi bersama keluarga di penampungan darurat, hal ini menjadi ancaman serius. Sanitasi dan sistem air bersih yang hancur akibat konflik membuat hujan deras membawa air kotor ke wilayah padat penduduk.

Situasi ini menyebabkan tenda-tenda pengungsian runtuh serta membasahi pakaian dan perlengkapan tidur. Kepadatan penduduk dan sanitasi buruk menciptakan lingkungan yang berbahaya bagi kesehatan.

Maysaa, seorang ibu di Gaza, mengungkapkan bahwa anak-anaknya kedinginan dan hanya memiliki dua potong pakaian untuk bertahan di tengah cuaca dingin. "Anak perempuan saya hanya punya dua pakaian. Keduanya basah, jadi sekarang dia memakai celana pendek di tengah cuaca dingin," kata Maysaa, dikutip dari unicef.org, Jumat 13 Maret 2026.

Mayar, seorang anak berusia 14 tahun, kehilangan rumahnya akibat konflik dan harus bertahan di antara puing-puing yang dingin. "Pagi ini hujan masuk melalui celah-celah dan membasahi kasur serta pakaian kami. Sebelum perang, saya pergi ke sekolah dan pulang ke rumah menjalani kehidupan normal. Kami dulu menikmati hujan. Sekarang kami justru berusaha menghindarinya," kata Mayar.

Sebagai respons terhadap situasi ini, UNICEF telah mengirimkan ribuan tenda keluarga, ratusan ribu selimut, dan pakaian musim dingin ke Gaza. Bantuan tunai juga diberikan kepada keluarga rentan. Upaya lain yang dilakukan termasuk memompa air banjir, memperkuat saluran drainase, dan membersihkan puing-puing yang menyumbat aliran air di lokasi pengungsian.

Namun, kebutuhan masih sangat besar bagi banyak keluarga di Gaza, terutama karena musim dingin belum berakhir. Bagi anak-anak yang tinggal di tenda-tenda rapuh, setiap awan gelap dapat berarti satu malam lagi yang harus dilalui dalam dingin, basah, dan ketidakpastian. Baghdad mengenang, "Dulu musim dingin itu indah. Kami berkumpul bersama keluarga di malam hari dan punya minuman hangat."

Recommended