Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode musim kemarau 2026 secara bertahap. Transisi menuju musim kering ini diperkirakan terjadi dalam tiga bulan ke depan, yakni April, Mei, dan Juni, seperti dilansir dari Medcom.
Datangnya musim kemarau tahun ini tidak berlangsung serentak di seluruh penjuru negeri. Setiap daerah memiliki jadwal awal musim kemarau yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kondisi geografis, topografi, dan dinamika atmosfer lokal.
Masyarakat diimbau untuk mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau yang akan datang. Kesiapsiagaan sejak awal menjadi krusial dalam meminimalkan dampak negatif yang mungkin terjadi, seperti kekeringan, risiko kebakaran lahan, dan potensi krisis air bersih.
Menurut BMKG, penurunan intensitas curah hujan di berbagai daerah menjadi indikasi awal masuknya musim kemarau. Informasi iklim terkini dari sumber resmi seperti BMKG sangat penting untuk terus dipantau.
Pada bulan April 2026, sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mulai memasuki musim kemarau. Kawasan yang akan merasakan awal musim kering ini mencakup sebagian kecil Pulau Jawa, Bali, serta sebagian besar wilayah Nusa Tenggara.
Nusa Tenggara, yang secara karakteristik lebih kering dibandingkan pulau lain, menjadi salah satu kawasan yang paling awal merasakan dampak musim kemarau setiap tahun. Oleh karena itu, masyarakat di sana perlu mempersiapkan diri dengan matang.
Memasuki bulan Mei 2026, cakupan wilayah yang memasuki musim kemarau diprediksi meluas hingga mencapai sekitar 26,3 persen dari total wilayah Indonesia. Daerah yang akan terdampak pada bulan ini meliputi sebagian Sumatra, Jawa, dan Bali, serta sebagian wilayah Papua.
Dengan persentase ini, Mei menjadi bulan dengan cakupan wilayah terdampak terbesar pada fase awal musim kemarau 2026. Masyarakat di wilayah tersebut diharapkan segera melakukan langkah antisipasi, termasuk menyiapkan cadangan air dan mewaspadai potensi kebakaran lahan.
Pada bulan Juni 2026, sekitar 23,3 persen wilayah Indonesia lainnya diperkirakan turut memasuki musim kemarau. Wilayah ini mencakup sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, serta Papua Barat.
Cakupan luas Sumatra dan Kalimantan yang masuk musim kemarau pada Juni memerlukan perhatian serius. Kedua pulau tersebut memiliki kawasan hutan yang sangat rentan terhadap risiko kebakaran saat musim kering tiba.
Penyebab dan Durasi Kemarau 2026
BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal di 46,5 persen wilayah Indonesia dibandingkan rata-rata klimatologinya. Fenomena ini berkaitan dengan fase Netral menuju El Niño kategori lemah yang mulai teramati pada pertengahan tahun.
Meskipun dimulai pada April, puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi secara merata pada bulan Agustus 2026. Secara keseluruhan, sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diproyeksikan akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.