Pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto, menerapkan pendekatan inklusif dalam membentuk tim untuk menghadapi turnamen internasional mendatang. Ia tidak membatasi pilihannya hanya pada pemain dari liga tertentu.
Sebagai persiapan menuju Piala AFF U-19 2026 dan Kualifikasi Piala Asia U-20 2027, pemusatan latihan di Surabaya menjadi langkah awal. Nova Arianto membuka peluang bagi pemain dari berbagai tingkatan liga, termasuk Championship League dan bahkan kasta ketiga.
Reno Salampessy dari Persipura Jayapura, Algazani Dwi Sugandi dari Adhyaksa Farmel, dan Muhammad Rafa Raditya Abdurahman dari Pekanbaru FC adalah contoh pemain yang dipanggil dari luar Super League.
Menurutnya, pemain di Super League jarang mendapat kesempatan bermain yang cukup. "Saya lihat di Super League sangat-sangat jarang untuk mendapatkan kesempatan bermain. Hanya ada Arkhan Kaka, mungkin di sini ada Putu Panji ataupun Nazriel Alvaro yang bermain. Tetapi kita bisa lihat secara jam bermain mereka tidak ada," ucapnya.
Selain itu, Nova Arianto juga aktif memantau EPA Championship U-19 untuk mencari bakat-bakat potensial. Ajang ini diikuti oleh 20 akademi dari klub-klub Championship dan akan digelar di komplek Garudayaksa Football Academy mulai 1 April.
"Kenapa saya coba opsi lainnya, mungkin ada yang di Liga 2 maupun Liga 3. Saya ingin melihat semua opsi yang terjadi, termasuk di EPA U-20, dan kita lihat siapa pemain yang terbaik yang akan masuk," jelasnya.
Sistem Promosi dan Degradasi
Dengan turnamen terdekat yang masih beberapa bulan lagi, Nova Arianto menekankan bahwa proses seleksi masih panjang. Ia akan menerapkan sistem promosi dan degradasi untuk memastikan komposisi pemain yang paling kompetitif.
Saat ini, baru Theo Leeming, pemain diaspora, yang bergabung dalam skuad. Namun, nama-nama seperti Matthew Baker, Lucas Lee, Amar Brkic, dan Welber Jardim juga akan dipertimbangkan.
"Tetapi kalau ada pemain yang lebih baik dari yang ada sekarang pastinya akan ada promosi," pungkasnya.