Pesawat Pengendali Canggih AS Hancur Dihantam Rudal Iran di Arab Saudi

Sebuah pesawat E-3 Sentry AWACS milik Angkatan Udara AS dilaporkan hancur akibat serangan rudal dan drone Iran di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi.

Sebuah pesawat komando dan kendali canggih, E-3 Sentry AWACS (Airborne Early Warning and Control), milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS), dilaporkan rusak parah dalam serangan rudal dan drone Iran. Insiden ini terjadi pada 27 Maret di Pangkalan Udara Prince Sultan Air Base, Arab Saudi.

Peristiwa ini, seperti dilaporkan sejumlah media termasuk Bloomberg dan Wall Street Journal yang juga dikutip dari Detik iNET, mengakibatkan luka-luka pada lebih dari 10 personel militer, dengan dua di antaranya mengalami luka serius. Pada saat serangan berlangsung, tiga pesawat tanker pengisian bahan bakar udara KC-135 dan setidaknya satu pesawat E-3 Sentry AWACS mengalami kerusakan berat.

Kejadian ini menandai pertama kalinya model E-3 hancur dalam sebuah konflik. Foto-foto yang menunjukkan E-3 Sentry AWACS dengan bagian ekor terputus dan tidak lagi dapat berfungsi telah tersebar luas di berbagai platform media sosial, meskipun keasliannya masih belum dapat dipastikan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak memberikan komentar mengenai insiden tersebut. Namun, Air & Space Forces Magazine, dilansir dari Detik iNET, telah meninjau gambar yang memperlihatkan kerusakan signifikan pada sebuah E-3 di pangkalan udara tersebut. Jika kerusakan ini terkonfirmasi, kemungkinan besar pesawat yang sudah tua itu tidak dapat diperbaiki.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan, diketahui bahwa enam pesawat E-3 tengah bersiaga di Pangkalan Udara Prince Sultan sebelum insiden terjadi. Pesawat AWACS sendiri memiliki peran krusial dalam mengelola medan perang di berbagai konflik besar.

Angkatan Udara AS telah mengoperasikan pesawat AWACS sejak akhir tahun 1970-an untuk mendukung kemampuan komando dan kendali, serta intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Pesawat ini telah digunakan secara ekstensif dalam Operasi Badai Gurun, perang Kosovo, konflik di Irak dan Afghanistan, serta kampanye melawan kelompok ISIS.

Namun, armada E-3 semakin menua dan kemampuannya mulai tertinggal dibandingkan beberapa musuh utama. Jumlah armada E-3 Angkatan Udara AS telah menyusut menjadi hanya 16 unit, seiring dengan kebijakan militer untuk memensiunkan pesawat yang kurang mumpuni. Pada tahun fiskal 2024, E-3 memiliki tingkat kesiapan misi sekitar 56 persen, menunjukkan bahwa hanya sedikit lebih dari separuh armada yang siap terbang dan menjalankan misi pada waktu tertentu.

Kehilangan salah satu pesawat AWACS yang semakin langka ini, terutama yang tampaknya sedang aktif dalam operasi, dapat secara signifikan menghambat kemampuan Angkatan Udara AS. Boeing E-3 Sentry adalah pesawat peringatan dini dan kendali udara yang dikembangkan oleh Boeing, berbasis pada pesawat Boeing 707.

Pesawat ini digunakan oleh Angkatan Udara AS, NATO, Angkatan Udara dan Antariksa Prancis, Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi, dan Angkatan Udara Chili. E-3 memiliki kubah radar berputar (rotodome) yang khas di bagian atasnya. Produksinya berakhir pada tahun 1992 setelah total 68 pesawat dibuat. E-3 pertama USAF dikirimkan pada Maret 1977. NATO memiliki 18 unit, Inggris 7 unit, Prancis 4 unit, dan Arab Saudi 5 unit. Pada April 2022, Angkatan Udara AS mengumumkan Boeing E-7 akan menggantikan E-3, dimulai pada tahun 2027.

Dampak Kerugian Signifikan bagi AS

Heather Penney, seorang direktur di Mitchell Institute for Aerospace Studies, menyoroti dampak dari hilangnya pesawat ini. "Kehilangan E-3 ini sangat bermasalah, mengingat betapa krusialnya untuk segala hal, mulai dari dekonfliksi ruang udara, dekonfliksi pesawat, penargetan, hingga memberikan efek mematikan lain yang dibutuhkan oleh seluruh pasukan," ujar Penney.

Kelly Grieco, seorang pakar kebijakan pertahanan di Stimson Center, menambahkan bahwa hilangnya E-3 dapat menciptakan celah dan berpotensi menyebabkan hilangnya peluang dalam menargetkan pasukan Iran. "Ini adalah kerugian signifikan untuk peperangan dalam jangka pendek," tutur Grieco. Para pilot tempur, khususnya, sangat bergantung pada gambaran ruang tempur yang disajikan oleh AWACS.

Sebelumnya, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa peluncuran rudal dan drone Iran telah menurun lebih dari 90 persen sejak konflik dimulai. Namun, insiden terbaru ini menunjukkan bahwa Iran tetap memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal, dan terus menyerang pangkalan serta target utama AS di seluruh kawasan.

Iran tampaknya memfokuskan serangannya pada situs radar dan target seperti pesawat tanker dan pesawat AWACS, yang dapat melumpuhkan kemampuan Amerika dalam memproyeksikan kekuatan udara. Pangkalan Udara Prince Sultan sendiri merupakan pusat militer AS yang krusial dan menampung berbagai pesawat pendukung operasi melawan Iran.

"Ini tentu bukan serangan acak," kata Grieco. Dengan menargetkan radar, situs komunikasi, pesawat, dan pangkalan, Iran tampaknya sedang mencoba melakukan kampanye udara balasan secara asimetris. Para ahli meyakini bahwa hilangnya pesawat AWACS ini akan memaksa sisa armada E-3 yang ada untuk bekerja jauh lebih keras.

Recommended