Studi Genetik Ungkap Praktik ‘Sunjang’ Tumbalkan Keluarga di Korea Kuno

Studi genetik terbaru mengungkap praktik

Sekitar 1.500 tahun yang lalu, praktik pengorbanan manusia yang disebut "sunjang" di wilayah Korea kuno melibatkan penumbangan seluruh anggota keluarga untuk menghormati kaum elite kerajaan setempat. Temuan ini diungkap dalam studi genetik terbaru yang diterbitkan di jurnal Science Advances, dilansir dari Detik iNET pada Selasa (21/5/2026).

Tim peneliti internasional menganalisis 78 kerangka dari kompleks pemakaman Imdang-Joyeong di Gyeongsan, yang terletak di bagian tenggara Semenanjung Korea. Makam-makam tersebut, yang dibangun antara abad keempat dan keenam Masehi selama periode Tiga Kerajaan (sekitar 57 SM hingga 668 M), memberikan bukti kuat akan praktik ini.

Catatan sejarah sebelumnya telah menunjukkan bahwa kerajaan Silla mempraktikkan sunjang, yaitu bentuk pengorbanan di mana para pelayan atau pengikut dibunuh dan dikuburkan bersama kaum elite. Masyarakat Silla pada masa itu juga cenderung mengutamakan pernikahan sedarah di antara individu yang masih berkerabat.

Analisis DNA dari 78 kerangka tersebut mengungkapkan 11 pasang individu yang merupakan kerabat tingkat pertama, seperti orang tua dan anak atau saudara kandung. Selain itu, ditemukan 23 pasang kerabat tingkat kedua, termasuk kakek-nenek dan cucu, atau bibi dan keponakan. Data ini menegaskan kebiasaan masyarakat Silla menguburkan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dekat secara bersama-sama.

Para peneliti juga mengidentifikasi lima individu, baik dari kalangan kerajaan maupun rakyat biasa, yang orang tuanya memiliki hubungan kekerabatan dekat, termasuk satu pasangan sepupu pertama. Ini menjadi bukti bahwa praktik pernikahan sedarah lazim di kalangan elite kerajaan Silla dan juga di antara rakyat jelata yang dikorbankan untuk mereka.

Dengan menggunakan data genomik, 13 silsilah keluarga berhasil direkonstruksi dari orang-orang yang dimakamkan di sana. Rekonstruksi ini mengungkap jaringan kekerabatan yang luas, mencakup dua situs pemakaman dan membentang selama lebih dari satu abad, dengan fokus utama pada garis keturunan dari pihak ibu.

Namun, pola pemakaman bagi para pengikut yang dikorbankan menunjukkan sedikit perbedaan. Sementara para elite atau "pemilik makam" diberikan pemakaman individual, para pengikut terkadang dikelompokkan bersama sebagai tumbal. Terdapat tiga kasus di mana orang tua dan anak-anak mereka dikorbankan bersama di makam yang sama.

Kondisi ini mendukung laporan sejarah yang menyatakan bahwa praktik sunjang dapat mengakibatkan pemusnahan seluruh anggota rumah tangga. "Kekerabatan genetik di antara individu-individu yang dikorbankan selama beberapa generasi ini mungkin menunjukkan adanya keluarga-keluarga yang secara khusus bertugas sebagai tumbal bagi kelas pemilik makam secara turun-temurun," tulis para peneliti.

Jack Davey, Direktur Early Korean Studies Center di Cambridge, Massachusetts, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyatakan bahwa studi ini merupakan kontribusi signifikan bagi arkeologi Korea. Penemuan kerangka yang terawetkan dari masa Tiga Kerajaan sendiri tergolong sangat langka.

Recommended