Trump Ingin Kuasai Kuba Usai AS Blokir Pasokan Minyak

Donald Trump menyatakan minatnya untuk mengambil alih Kuba setelah AS memblokir pasokan minyak ke negara tersebut.

Donald Trump menyatakan ketertarikannya untuk mengambil alih Kuba setelah pemerintah AS memblokir pasokan minyak ke negara tersebut, yang menyebabkan pemadaman listrik massal.

Trump menyampaikan bahwa baginya, adalah sebuah kehormatan jika AS benar-benar dapat mengambil alih Kuba.

"Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya selalu mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba, kapan Amerika Serikat akan mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba? Itu suatu kehormatan besar," ujar Trump dalam pidatonya dari Ruang Oval Gedung Putih, dikutip dari CNN, Selasa (17/6/2026).

Menurut Trump, AS dapat mengambil alih Kuba dengan segera dan tanpa kesulitan jika benar-benar menginginkannya, meskipun ia tidak menjelaskan langkah konkret yang akan diambil.

"Mengambil alih Kuba dalam bentuk apa pun, ya, mengambil alih Kuba, maksud saya, apakah saya membebaskannya, mengambilnya, saya pikir saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya," paparnya.

Pernyataan Trump ini muncul di tengah krisis energi di Kuba, yang disebabkan oleh pemadaman listrik massal akibat kekurangan minyak. Blokade pengiriman minyak oleh AS memperburuk situasi tersebut.

Krisis minyak ini tidak hanya menyebabkan gangguan pasokan listrik, tetapi juga melambungkan harga bahan bakar. Di pasar tidak resmi, harga bensin per liter mencapai US$ 9 atau setara dengan Rp 152.973 (dengan asumsi kurs Rp 16.997/dolar AS).

Untuk mengisi penuh tangki bensin mobil, dibutuhkan lebih dari US$ 300 atau Rp 5,09 juta, yang nilainya melebihi penghasilan sebagian besar warga Kuba dalam setahun.

Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernández de Cossío, menanggapi masalah pemadaman listrik di Kuba dengan menyatakan, "Para pejabat di pemerintah AS pasti merasa sangat senang dengan kerugian yang diderita setiap keluarga Kuba."

Recommended