Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah mengajukan permintaan gencatan senjata. Namun, AS hanya akan mempertimbangkan tawaran tersebut jika Selat Hormuz dibuka, bebas, dan aman.
"Sampai itu terjadi, kami akan menghancurkan Iran sampai habis atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!" tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip dari CNBC pada Kamis (2/4/2026) dan dilansir dari Detik Finance.
Pihak Iran segera membantah klaim tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran tidak meminta gencatan senjata, melainkan berupaya untuk mengakhiri perang.
Araghchi menambahkan, "Saat ini tidak ada negosiasi." Pernyataan ini menegaskan posisi Iran yang menolak klaim AS mengenai adanya permintaan perdamaian.
Belum ada kejelasan mengenai apakah permintaan tersebut disampaikan langsung kepada AS, seperti yang disebutkan Trump, atau melalui perantara. Bahkan jika Presiden Pezeshkian benar-benar mengajukan gencatan senjata, keputusannya mungkin tidak bersifat final.
Pemimpin tertinggi Iran adalah Ayatollah Mojtaba Khamenei, bukan presiden. Namun, Mojtaba, yang merupakan penerus ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, belum tampil di hadapan publik sejak menjabat.
Kedua belah pihak seringkali memberikan klaim yang saling bertentangan terkait ada atau tidaknya pembicaraan damai. Hal ini terjadi sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan AS dan Israel ke Iran.
Konflik yang telah berlangsung selama sebulan ini telah memicu gejolak ekonomi yang luas. Fluktuasi besar harga energi global sebagian besar dipicu oleh kemampuan Iran untuk terus menghambat Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pengiriman sebagian besar minyak dunia. Trump mengakui selat tersebut tetap menjadi titik krusial dalam perang, meskipun ia dan pejabat pemerintah lainnya menyatakan bahwa militer Iran telah dihancurkan.