Uston Nawawi Masuk Kursi Strategis, Persebaya Susun Arah Baru di Era Bernardo Tavares

Persebaya Surabaya bergerak cepat merapikan fondasi klub. Di tengah performa yang mulai stabil di BRI Super League 2025/2026, manajemen mengambil keputusan penting dengan menggeser peran legenda hidup Green Force, Uston Nawawi. Sosok yang selama ini dikenal dekat dengan lapangan kini naik ke level yang lebih strategis, mengawal arah teknis klub dalam jangka panjang.

Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Sejak awal kedatangan pelatih kepala Bernardo Tavares, Persebaya memang menunjukkan tanda-tanda pembenahan serius, bukan hanya soal taktik di lapangan, tetapi juga soal struktur organisasi. Penunjukan Uston Nawawi sebagai direktur teknik menjadi bagian dari desain besar tersebut.

Di paragraf kedua ini, nama Uston Nawawi kembali menguat sebagai simbol kesinambungan. Manajemen tidak sekadar mencari figur profesional, tetapi juga sosok yang memahami DNA Persebaya, sejarahnya, dan tuntutan besar dari tribun Bonek.

Uston Nawawi Naik Peran, Bukan Sekadar Pergantian Jabatan

Status baru Uston Nawawi sebagai direktur teknik terkonfirmasi dalam dokumen resmi DSP I.League sebelum laga PSIM Yogyakarta kontra Persebaya digelar. Artinya, perubahan ini sudah melalui proses administratif yang matang, bukan keputusan mendadak setelah kemenangan.

Dengan jabatan tersebut, Uston tak lagi terlibat langsung dalam sesi latihan harian atau instruksi teknis di pinggir lapangan. Tugasnya kini jauh lebih luas. Ia bertanggung jawab merancang arah pengembangan sepak bola Persebaya, mulai dari filosofi bermain, kurikulum pembinaan usia muda, hingga kesinambungan gaya permainan antartim.

Peran ini menempatkan Uston sebagai jembatan antara manajemen dan tim pelatih. Ia menjadi pengawas sekaligus perancang, memastikan setiap keputusan teknis tidak lepas dari identitas klub.

Latar Kuat: Kemenangan Meyakinkan di Bantul

Momentum pengumuman struktur baru ini terasa tepat. Persebaya baru saja meraih kemenangan meyakinkan 3-0 atas PSIM Yogyakarta pada pekan ke-18 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (25/1/2026).

Green Force tampil dominan sejak awal. Gol-gol kemenangan dicetak oleh Gali Freitas, Bruno Paraiba, dan Rachmat Irianto. Permainan Persebaya terlihat lebih rapi, sabar, dan efektif, terutama di babak kedua.

Kemenangan ini bukan hanya soal skor. Cara bermain Persebaya menunjukkan struktur yang mulai terbentuk. Transisi antarlini berjalan lebih mulus, pressing lebih terukur, dan eksekusi peluang lebih klinis.

Posisi Klasemen Jadi Modal Psikologis

Tambahan tiga poin membuat Persebaya tetap bertahan di posisi keenam klasemen sementara dengan koleksi 31 poin. Di tengah persaingan ketat papan atas, posisi ini memberi ruang bernapas sekaligus peluang untuk menanjak lebih tinggi.

Bagi tim seperti Persebaya, konsistensi menjadi kunci. Musim ini menunjukkan bahwa selisih poin antartim sangat tipis. Satu kemenangan bisa mengubah peta klasemen secara signifikan.

Manajemen tampaknya memahami hal itu. Stabilitas di luar lapangan dianggap sama pentingnya dengan performa di atas rumput. Penunjukan direktur teknik menjadi bagian dari upaya menjaga konsistensi tersebut.

Struktur Staf yang Mulai Solid

Di bawah kendali Bernardo Tavares, struktur staf Persebaya kini terlihat lebih lengkap dan terorganisasi. Tavares tetap menjadi pengambil keputusan utama di tim senior, dibantu Paulo Renato Goncalves Duarte dan Shin Sanggyu sebagai asisten pelatih.

Untuk sektor penjaga gawang, Felipe Martins Goncalves dipercaya mengawal peningkatan performa. Sidiq Maulana Tualeka menjalankan peran manajer tim, sementara Andri Suyoko bertugas sebagai sekretaris tim.

Tim medis juga diperkuat. Ahmad Ridhoi menjadi dokter tim, dengan dukungan Yogha Rasta Aditya Chasantana dan Dani Maulana Nugraha sebagai fisioterapis. Struktur ini menunjukkan keseriusan Persebaya membangun tim secara menyeluruh, bukan setengah-setengah.

Tavares Bicara soal Progres Tim

Usai kemenangan di Bantul, Bernardo Tavares menyoroti peningkatan performa anak asuhnya, terutama setelah turun minum. Ia menilai tim mulai memahami dan mengeksekusi rencana permainan dengan lebih disiplin.

“Di babak kedua kami berkembang. Banyak peluang tercipta dan tim bermain lebih agresif. Hasil ini pantas kami dapatkan,” ujar pelatih asal Portugal tersebut.

Namun, Tavares juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan emosi. Menang besar tidak boleh membuat tim terlena, sama seperti kekalahan tidak boleh mematahkan semangat.

Pendekatan ini sejalan dengan filosofi jangka panjang yang kini juga menjadi tanggung jawab direktur teknik.

Mengapa Uston Nawawi Dipilih?

Dari sudut pandang manajemen, penunjukan Uston Nawawi bukan sekadar penghormatan pada legenda klub. Ia dipilih karena kombinasi pengalaman, pemahaman kultur, dan kedekatan emosional dengan Persebaya.

Uston mengenal dinamika klub dari berbagai sisi. Ia pernah menjadi pemain, pelatih, dan figur penghubung di ruang ganti. Pengalaman itu membuatnya memahami tekanan khas klub besar dengan basis suporter fanatik.

Dalam konteks direktur teknik, hal ini krusial. Keputusan strategis tidak hanya dinilai dari aspek teknis, tetapi juga dari dampaknya terhadap identitas klub dan hubungan dengan suporter.

Peran Direktur Teknik dalam Sepak Bola Modern

Di sepak bola modern, direktur teknik menjadi posisi vital. Ia bukan pelatih, bukan pula manajer, tetapi otak di balik arah permainan klub. Tugasnya memastikan keberlanjutan, agar pergantian pelatih tidak mengubah identitas tim secara drastis.

Persebaya tampaknya ingin mengadopsi model ini secara serius. Dengan Uston di posisi tersebut, klub berharap setiap pelatih yang datang atau pergi tetap bekerja dalam kerangka besar yang sama.

Ini juga berdampak pada pembinaan pemain muda. Akademi Persebaya diharapkan selaras dengan kebutuhan tim senior, baik dari segi karakter bermain maupun mental bertanding.

Tantangan yang Menanti

Meski langkah ini terkesan ideal, tantangan tetap besar. BRI Super League dikenal sebagai kompetisi yang keras, padat jadwal, dan penuh tekanan. Ekspektasi Bonek juga selalu tinggi, tanpa banyak ruang untuk kesalahan.

Uston Nawawi harus mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan hasil instan dan visi jangka panjang. Ia perlu memastikan bahwa proses tetap berjalan meski hasil tidak selalu sesuai harapan dalam waktu singkat.

Koordinasi dengan Bernardo Tavares juga menjadi kunci. Hubungan direktur teknik dan pelatih kepala harus solid, saling percaya, dan bebas konflik kepentingan.

Sinyal Keseriusan Persebaya

Jika dilihat secara utuh, penunjukan Uston Nawawi sebagai direktur teknik adalah sinyal kuat bahwa Persebaya tidak ingin berjalan di tempat. Klub mulai membangun sistem, bukan hanya tim.

Dengan performa yang mulai stabil, struktur staf yang rapi, dan perencanaan jangka panjang yang jelas, Persebaya perlahan menunjukkan arah baru. Era Bernardo Tavares bukan hanya tentang taktik di lapangan, tetapi juga tentang pembenahan menyeluruh.

Bagi Bonek, harapan itu kini terasa lebih nyata. Musim masih panjang, persaingan masih ketat, tetapi fondasi sudah mulai diletakkan. Dan di balik layar, Uston Nawawi kini memegang peran penting dalam menentukan ke mana Persebaya akan melangkah.

Recommended