Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mempublikasikan temuan penting mengenai fenomena upwelling di perairan selatan Jawa. Penelitian ini memberikan pemahaman lebih lanjut tentang peran interaksi iklim global dalam memperkuat “pompa nutrien laut” yang berdampak pada peningkatan produktivitas perairan dan potensi hasil tangkapan ikan, terutama saat musim kemarau.
Tim Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, di bawah kepemimpinan Martono, melakukan analisis mendalam terhadap dinamika Arus Pesisir Selatan Jawa (South Java Coastal Current/SJCC) selama periode 1993 hingga 2023. Kajian ini memanfaatkan berbagai data oseanografi dan atmosfer, termasuk Ocean Surface Current Analysis Real-time (OSCAR), ERA5, serta indeks Niño3.4 dan Dipole Mode Index (DMI), seperti dilansir dari Medcom.
Hasil riset menunjukkan bahwa SJCC adalah komponen vital dalam sistem sirkulasi Samudra Hindia bagian timur. Arus ini berperan penting dalam transportasi massa air, proses upwelling, serta variabilitas iklim regional yang kompleks.
Salah satu anggota tim peneliti, Yosef Prihanto, menjelaskan bahwa SJCC menunjukkan variabilitas signifikan dalam skala intramusiman. “Dalam skala intramusiman, SJCC menunjukkan periodisitas dominan sekitar 76 hari. Secara umum, arus permukaan ke arah timur di perairan selatan Jawa terbentuk sepanjang tahun, meskipun intensitasnya bervariasi setiap bulan,” ujar Yosef.
Menurutnya, dinamika arus tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh angin monsun. Interaksi laut-atmosfer skala besar serta propagasi gelombang Kelvin ekuatorial juga berperan penting dalam membentuk karakteristik arus di perairan selatan Jawa.
Analisis data selama tiga dekade menunjukkan temuan krusial: interaksi antara fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan El Niño berperan dalam memperkuat proses upwelling di wilayah selatan Jawa hingga barat Sumatra. “Jika sebelumnya upwelling lebih banyak dikaitkan dengan El Nino, maka melalui riset ini terbukti bahwa keberadaan IOD positif akan semakin memperkuat proses tersebut. Ini merupakan hasil analisis berbasis data jangka panjang,” jelas Yosef.
Penguatan upwelling ini memiliki dampak langsung terhadap ekosistem laut. Peningkatan suplai nutrien ke permukaan laut memicu pertumbuhan fitoplankton, yang merupakan fondasi utama rantai makanan di laut. Kondisi ini pada gilirannya mendorong peningkatan produktivitas perairan dan potensi sumber daya ikan, terutama pada musim kemarau.
Temuan ini melengkapi riset BRIN sebelumnya yang menyebutkan bahwa upwelling dapat menjadi faktor signifikan dalam meningkatkan hasil tangkapan nelayan. Meskipun demikian, BRIN tetap mengingatkan akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi risiko dinamika laut yang dapat terjadi akibat kondisi iklim ekstrem.
Manfaat untuk Pengelolaan Sumber Daya Kelautan
Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pengaruh IOD terhadap variabilitas arus permukaan di selatan Jawa cenderung lebih kuat dibandingkan El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Pemahaman yang lebih baik tentang interaksi kedua fenomena ini menjadi kunci untuk meningkatkan akurasi prediksi kondisi oseanografi dan iklim di wilayah tersebut.
Hasil riset ini telah diterima di jurnal internasional bereputasi tinggi “Oceanologia” dan siap dipublikasikan pada tahun 2026. BRIN berharap temuan ini dapat menjadi dasar ilmiah yang kokoh dalam mendukung pengelolaan sumber daya kelautan berkelanjutan.
Selain itu, riset ini diharapkan memperkuat sistem informasi bagi sektor perikanan dan masyarakat pesisir. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai interaksi IOD positif dan El Niño, nelayan dan pemangku kebijakan dapat mempersiapkan diri untuk memaksimalkan potensi hasil tangkapan sekaligus mengantisipasi risiko dinamika laut di perairan selatan Jawa secara lebih efektif.