Iran Ancam Amerika Serikat Setelah Serangan Terbaru

Pejabat Iran menyatakan akan membuat AS menyesal atas tindakan mereka, menyusul serangan dan potensi blokade Selat Hormuz.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Iran melontarkan ancaman balasan. Hal ini menyusul serangan terhadap Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan pasokan energi global.

Beberapa hari lalu, Iran bersumpah akan membuat Amerika Serikat menyesal telah menyerang negaranya dan akan terus melakukan segala upaya untuk mengontrol Selat Hormuz. Tindakan ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak.

Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa mengalahkan Iran lebih penting daripada menjaga harga minyak tetap stabil.

Ali Larijani, seorang pejabat keamanan Iran, menyampaikan pernyataan tegas melalui media sosial, "Meskipun memulai perang itu mudah, perang tidak dapat dimenangkan hanya dengan beberapa cuitan. Kami tidak akan menyerah sampai membuat Anda menyesal atas kesalahan perhitungan yang serius ini," katanya di X.

Pernyataan Larijani muncul setelah pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyerukan pembalasan. "Tuas untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan," kata Khamenei.

Negara-negara Teluk merasakan dampak langsung dari meningkatnya ketegangan ini. Serangan drone menyebabkan kerusakan di bandara internasional Kuwait dan di pusat kota Dubai. Arab Saudi juga melaporkan telah mencegat drone yang menuju ke ladang minyak Shaybah dan distrik kedutaannya.

Akibatnya, negara-negara Teluk terpaksa memangkas produksi minyak mereka, dan kapal tanker minyak terjebak di Teluk. Harga minyak mentah telah naik signifikan sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, yang mengancam pertumbuhan ekonomi global dan memicu inflasi.

Recommended