Seorang nenek di negara bagian Kentucky, Amerika Serikat, mengambil keputusan tegas dengan menolak tawaran senilai USD 26 juta atau sekitar Rp 441 miliar. Penolakan ini bertujuan untuk mempertahankan sebagian lahan pertanian miliknya agar tidak dialihfungsikan menjadi pusat data kecerdasan buatan (AI).
Ida Huddleston, yang kini berusia 82 tahun, serta keluarganya, memegang teguh warisan lahan seluas 1.200 acre atau setara 485 hektar yang telah mereka miliki selama beberapa generasi. Keluarga tersebut menyatakan keberatan atas pembangunan fasilitas teknologi raksasa di dekat atau di atas area pertanian mereka.
Pada April 2025, sebuah perusahaan AI besar yang namanya dirahasiakan, mengajukan penawaran fantastis sebesar USD 26 juta untuk membeli lahan tersebut. Namun, tawaran itu dimentahkan oleh Huddleston dan keluarganya.
Menanggapi penilaian sinis terhadap keputusannya, Huddleston mengatakan kepada Local 12 WKRC, "Mereka menyebut kami petani tua bodoh, tapi kami tidak bodoh." Pernyataan ini dikutip dari TechCrunch pada Minggu (29/3/2026), sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Huddleston juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang dampak lingkungan yang mungkin timbul dari pusat data. "Kami tahu setiap kali makanan kami menghilang, lahan kami menghilang, dan kami tidak punya air – dan racun itu. Nah, saya sudah muak mengalaminya," tambahnya, merujuk pada laporan krisis air dan pencemaran tanah di area sekitar fasilitas pusat data.