Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap hari, telah berubah menjadi medan konfrontasi militer langsung sejak 28 Februari 2026. Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada tanggal tersebut. Tiga puluh hari setelah serangan pertama, pertanyaan krusial muncul mengenai strategi terbaik untuk membuka kembali selat tersebut dan menghindari kegagalan diplomatik.
Permasalahan ini dapat didekati melalui simulasi teknologi informasi dan komunikasi (ICT) modern. Berbagai perangkat lunak, mulai dari Microsoft Excel hingga bahasa pemrograman canggih seperti MATLAB atau Python, digunakan untuk menganalisis skenario kompleks. Tingkat kerumitan sistem yang disimulasikan menentukan kebutuhan akan efisiensi komputasi, yang umumnya hanya bisa dicapai dengan pendekatan pemrograman.
Studi ini, dilansir dari Detik iNET, mengintegrasikan dua kerangka utama, yakni model sistem dinamis dan simulasi stokastik berbasis Monte Carlo. Model sistem dinamis berfungsi untuk menggambarkan bagaimana variabel-variabel kunci berinteraksi dan berubah seiring waktu. Sementara itu, pendekatan stokastik memungkinkan model untuk menangkap ketidakpastian inheren dalam konflik nyata, dengan merepresentasikan beragam kemungkinan kejadian yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Metode simulasi Monte Carlo bekerja dengan mengulang proses ribuan kali guna menghasilkan spektrum hasil kemungkinan, bukan sekadar satu angka tunggal. Model ini beroperasi layaknya 'mesin skenario' yang dijalankan secara berulang oleh komputer. Sistem tersebut melacak perubahan tiga variabel kunci setiap minggunya untuk mensimulasikan berbagai jalur perkembangan konflik.
Dalam penelitian ini, sebanyak 10.000 simulasi dijalankan per skenario. Hasilnya berupa distribusi kemungkinan, yang mengindikasikan hasil mana yang paling berpeluang terjadi dan mana yang memiliki risiko tinggi. Tiga variabel yang dinamis setiap minggu mencakup kapabilitas militer AS dan Israel (stok amunisi presisi, interseptor rudal, serta kemampuan operasional pangkalan). Kemudian ada kapabilitas Iran dalam mempertahankan ancaman di Hormuz (peluncur rudal aktif, armada kapal cepat serang, ranjau, dan kemampuan koordinasi komando). Terakhir adalah kondisi politik domestik AS (dukungan publik, kapasitas Kongres mendanai operasi). Ketiga variabel ini saling memengaruhi, dan hasil konflik — apakah Hormuz terbuka, terjadi gencatan senjata, atau AS menarik diri — muncul dari dinamika interaksi tersebut.
Namun, angka dan distribusi probabilitas yang disajikan merupakan hasil prediksi simulasi, bukan fakta lapangan, intelijen, atau ramalan. Model komputasi berbasis akal imitasi (AI) ini dibangun di atas asumsi yang bisa diperdebatkan serta parameter yang belum sepenuhnya terverifikasi. Analisis ini sendiri disusun pada hari ke-29 konflik, di mana dua perkembangan signifikan mengubah lanskap konflik. Pada 28 Maret, kelompok Houthi di Yaman, sekutu Iran, menembakkan rudal balistik ke Israel. Sehari kemudian, Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ultimatum yang menyatakan universitas-universitas Amerika di kawasan Asia Barat sebagai target sah, sebagai balasan atas serangan terhadap dua universitas di Iran. Universitas seperti Texas A&M di Qatar dan NYU di Abu Dhabi masuk dalam daftar sasaran potensial.
Serangan terhadap kampus akan secara langsung menyeret negara-negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab ke dalam konflik. Menariknya, pada hari yang sama, Iran justru mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan melintasi Hormuz. Pakistan bersama Turki, Mesir, dan Arab Saudi mengadakan pertemuan darurat di Islamabad untuk mendorong de-eskalasi. Dua sinyal yang bertolak belakang ini — eskalasi ancaman dan gestur diplomatik — menjadi latar penting untuk memahami hasil simulasi.
Lima dari delapan skenario operasi yang dianalisis telah dikonfirmasi oleh pejabat AS kepada Axios pada 26 Maret. Tiga skenario lainnya dirumuskan oleh analis militer senior independen, termasuk Laksamana James Stavridis, Nick Reynolds dari RUSI, dan Dr. Andreas Krieg dari King's College London. Kolom 'kemungkinan dijalankan' dalam tabel di bawah ini merefleksikan penilaian berbasis sumber tentang peluang AS memilih opsi tersebut, yang berbeda dari angka-angka simulasi yang akan disajikan kemudian. Tabel simulasi bertujuan menjawab pertanyaan tentang bagaimana konflik kemungkinan akan berakhir jika opsi tersebut benar-benar diimplementasikan.
Tiga Konfigurasi Simulasi
Simulasi yang sama telah dijalankan tiga kali dengan konfigurasi parameter yang berbeda, guna mengevaluasi bagaimana perubahan konteks lapangan dapat memengaruhi distribusi hasil. Ketiga simulasi ini memiliki horizon waktu 27 minggu, atau sekitar enam bulan sejak H-28, yang menjadi batas analisis dalam artikel ini.
A. Hasil Simulasi 1: Konfigurasi Aktual (Hari ke-28/29) – Horizon 27 Minggu
Setiap tabel menampilkan distribusi hasil dari 10.000 simulasi Monte Carlo untuk setiap kombinasi operasi. Terdapat lima kemungkinan hasil akhir. Dua kolom pertama, "Hormuz Terbuka (Militer)" dan "Iran Sepakat, Hormuz Terbuka", keduanya menunjukkan keberhasilan bagi AS-Israel karena selat berhasil dibuka, meskipun melalui jalur yang berbeda. Kasus pertama terjadi karena kapabilitas Iran hancur di bawah ambang batas kritis, sedangkan yang kedua karena Iran setuju untuk membuka selat di bawah tekanan militer tinggi sebelum kapabilitasnya habis total. Kolom ketiga, "Negosiasi, Iran Diuntungkan", adalah kebalikannya, di mana AS terpaksa bernegosiasi dari posisi yang lemah, memungkinkan Iran untuk mendikte syarat. Dua kolom terakhir, "Penarikan Diri AS" dan "Lanjut Tanpa Hasil", mencerminkan situasi di mana konflik berakhir tanpa penyelesaian yang jelas bagi kedua belah pihak.
Dalam konfigurasi aktual dengan proyeksi horizon 27 minggu, "penarikan diri AS" merupakan hasil yang paling sering muncul di semua kombinasi. Kombinasi A, yang paling ambisius, berakhir dengan penarikan diri AS dalam 59% simulasi. Ini berarti, lebih dari separuh simulasi menunjukkan bahwa eskalasi penuh justru menyebabkan AS mundur sebelum tujuannya tercapai. Ruang negosiasi yang menguntungkan Iran dalam Kombinasi A hanya 3,7%. Hal ini disebabkan dukungan domestik AS yang terkikis terlalu cepat oleh beban operasi darat, sehingga tidak cukup waktu untuk mencapai kesepakatan. Kombinasi F, yang menekankan de-eskalasi, menghasilkan angka "Iran sepakat" tertinggi sebesar 42,9%, menunjukkan bahwa pendekatan mediasi aktif memberikan Iran jalur keluar yang tidak tersedia melalui eskalasi.
B. Hasil Simulasi 2: Konfigurasi Menguntungkan bagi AS-Israel (Batas Atas Realistis) – Horizon 27 Minggu
Pergeseran paling signifikan terlihat dalam konfigurasi yang menguntungkan AS dan Israel, dengan proyeksi horizon 27 minggu. Kombinasi A menghasilkan 47,6% kemungkinan Hormuz terbuka secara militer, ditambah 33,8% melalui gencatan senjata Iran, dengan penarikan diri AS hanya 0,9%. Ini adalah satu-satunya konfigurasi di seluruh simulasi di mana tujuan operasional AS-Israel tercapai secara konsisten. Faktor penentunya adalah gencatan senjata di Lebanon yang membebaskan sepenuhnya kapasitas udara Israel, dikombinasikan dengan pemulihan kapabilitas AS dan Israel, serta dukungan domestik yang lebih stabil. Jika salah satu faktor ini dihilangkan, seperti yang terjadi pada konfigurasi aktual, hasilnya kembali menunjukkan mayoritas penarikan diri AS. Kombinasi B dan C menghasilkan angka negosiasi dengan Iran diuntungkan tertinggi, yaitu antara 33-38%. Dalam kondisi ini, hal tersebut dapat diartikan sebagai tekanan negosiasi yang terbuka, di mana AS masih memiliki kapabilitas yang cukup untuk mendorong persyaratan yang tidak terlalu merugikan. Kombinasi F mencatat "Iran sepakat" tertinggi, mencapai 47,1%.
C. Hasil Simulasi 3: Konfigurasi Terburuk bagi AS-Israel – Horizon 27 Minggu
Aspek paling mencolok dari skenario konfigurasi terburuk, yang diproyeksikan dalam horizon 27 minggu, adalah kemungkinannya untuk terwujud tanpa Iran menembakkan satu peluru pun ke arah kapal AS. Cukup dengan memberi sinyal kepada Houthi untuk menutup Selat Bab el-Mandeb (BaM). Hal ini menghasilkan penarikan diri AS sebesar 64-78% di semua kombinasi, dengan ruang negosiasi yang sepenuhnya lenyap. Ketika BaM tertutup bersamaan dengan Hormuz, tekanan berlapis ini mempercepat erosi dukungan domestik AS. Distribusi dari 10.000 simulasi menunjukkan bahwa sebagian besar resolusi terjadi pada minggu-minggu awal. Tidak ada kombinasi operasi yang mampu membuka jendela kesepakatan dalam rentang waktu tersebut. Ruang negosiasi yang menguntungkan Iran hampir sepenuhnya hilang. Bahkan Kombinasi F hanya menghasilkan 35,0% gencatan senjata Iran dengan penarikan diri 64,1% dalam skenario penutupan BaM ini. Ancaman IRGC terhadap universitas AS yang dikeluarkan baru-baru ini relevan sebagai variabel tambahan yang belum diperhitungkan model, karena komplikasi diplomatik yang mungkin ditimbulkannya dapat mempercepat pergeseran dari konfigurasi aktual menuju skenario terburuk ini.
Proyeksi Jangka Pendek (Horizon 12 Minggu)
Simulasi yang sama dijalankan ulang dengan horizon waktu 12 minggu, atau sekitar 3 bulan sejak H-28, menggunakan parameter identik dengan konfigurasi aktual hari ke-28/29. Perbandingan ini krusial karena horizon waktu secara langsung memengaruhi distribusi hasil. Semakin pendek horizon, semakin banyak simulasi yang berakhir sebelum konflik mencapai resolusi apa pun.
Perbedaan paling signifikan pada proyeksi 12 minggu ini terletak pada baris terakhir, di mana "Lanjut Tanpa Hasil" mendominasi distribusi di semua kombinasi, berkisar antara 35,6% hingga 44,9%. Angka ini berbanding terbalik dengan proyeksi 27 minggu, di mana "Lanjut Tanpa Hasil" hampir tidak muncul (0-3%). Dalam tiga bulan pertama, konflik cenderung lebih sering membeku daripada terselesaikan. Iran belum cukup terdegradasi untuk menerima kesepakatan, dan AS belum cukup tertekan untuk menarik diri. Namun, terdapat satu pengecualian penting: Kombinasi F (De-eskalasi Terkelola) mencatat kemungkinan Hormuz terbuka tertinggi di antara semua kombinasi, yaitu 36,6%, dengan penarikan diri AS paling rendah (7,7%). Ini menunjukkan bahwa pendekatan diplomatik justru paling efektif dalam jangka pendek ketika semua jalur militer masih menghasilkan kebuntuan.
Temuan dan Implikasi Strategis
Secara keseluruhan, model menjalankan 120.000 iterasi simulasi Monte Carlo, dengan hasil empat kombinasi operasi dikalikan tiga kondisi, masing-masing 10.000 iterasi. Dari seluruh kombinasi tersebut, satu pola konsisten muncul: tidak ada jalur militer yang berhasil membuka Hormuz dalam kondisi aktual maupun kondisi terburuk. Bahkan dalam kondisi yang menguntungkan bagi AS-Israel, hanya operasi darat penuh yang berhasil, itu pun jika beberapa faktor kritis terpenuhi secara bersamaan. Penulis memperoleh enam temuan utama.
Temuan pertama yang menonjol adalah paradoks eskalasi. Operasi darat penuh, meskipun paling agresif, justru paling berisiko berakhir dengan penarikan diri AS dalam kondisi aktual, mencapai 59% dalam horizon 27 minggu. Hal ini bukan disebabkan oleh keunggulan militer Iran, melainkan karena tekanan politik domestik AS habis lebih cepat daripada waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan militer. Dengan kata lain, operasi berakhir bukan karena kekalahan di medan perang, melainkan karena ruang politik di Washington menyempit lebih dulu.
Temuan kedua berkaitan dengan jendela negosiasi. Model mengonfirmasi argumen yang telah teridentifikasi sebelumnya, bahwa tekanan militer saat ini mungkin merupakan momen paling kondusif untuk negosiasi. Hal ini bukan karena AS menang, melainkan karena kedua belah pihak mendekati batas masing-masing secara bersamaan. Iran kehilangan kapabilitas peluncur, sementara AS kehilangan stok amunisi presisi dan dukungan domestik. Jendela ini sempit dan terus menyempit setiap minggu yang berlalu.
Temuan ketiga menyangkut prasyarat keberhasilan. Kondisi yang menguntungkan bagi AS-Israel hanya dapat dicapai melalui kombinasi faktor-faktor yang saling bergantung: gencatan senjata di Lebanon, persetujuan dana darurat Kongres AS, dan percepatan pasokan amunisi. Dari ketiga faktor ini, gencatan senjata di Lebanon adalah yang paling menentukan, karena tanpanya Israel tidak dapat memfokuskan kapasitas udaranya ke Hormuz. Pertemuan di Islamabad dan izin Iran bagi 20 kapal Pakistan melintasi Hormuz menunjukkan bahwa jalur diplomatik belum sepenuhnya tertutup.
Temuan keempat berkaitan dengan variabel di luar model. Ancaman IRGC terhadap universitas-universitas AS, jika dieksekusi, akan menarik negara-negara Teluk ke dalam konflik dengan cara yang tak terduga. Komplikasi diplomatik semacam itu berpotensi mendegradasi kapabilitas militer AS dan Israel lebih cepat dari asumsi model. Ini menegaskan bahwa ancaman terhadap kampus-kampus di Qatar dan Uni Emirat Arab bukan sekadar berita sesaat, melainkan variabel struktural yang mengubah geometri konflik.
Temuan kelima menyoroti dimensi temporal yang sering diabaikan, yaitu perbedaan distribusi hasil antara jangka pendek dan jangka panjang. Simulasi dengan horizon 12 minggu (tiga bulan pertama sejak hari ke-28) menghasilkan gambaran yang sangat berbeda dari horizon 27 minggu. Dalam 12 minggu, "Lanjut Tanpa Hasil" menjadi hasil dominan di semua kombinasi, yaitu 35-47% simulasi berakhir tanpa resolusi, sementara penarikan diri AS hanya 8-28%. Hal ini berbanding terbalik dengan proyeksi 27 minggu, di mana penarikan diri mendominasi (35-59%) dan "Lanjut Tanpa Hasil" hampir tidak muncul (0-3%). Ini berarti, dalam tiga bulan pertama, konflik cenderung "membeku" daripada terselesaikan. Iran belum cukup terdegradasi untuk menyetujui pembukaan Hormuz, namun AS belum cukup tertekan untuk mundur. Jendela kebuntuan ini justru merupakan momen negosiasi paling kritis, ketika kondisi kedua belah pihak masih memiliki insentif untuk berunding sebelum tekanan waktu mendorong salah satu pihak ke keputusan yang tidak dapat dibatalkan.
Temuan keenam, dan mungkin yang paling asimetris, menyangkut peran Houthi sebagai pengungkit strategis Iran di luar Selat Hormuz. Simulasi menunjukkan bahwa penutupan BaM oleh Houthi adalah variabel tunggal dengan dampak terbesar terhadap seluruh distribusi hasil, melampaui bahkan pilihan kombinasi operasi militer AS itu sendiri. Ketika BaM ditutup, penarikan diri AS dalam horizon 12 minggu melonjak dari kisaran 7-28% menjadi 44-59% di semua kombinasi. Negosiasi dari posisi lemah AS lenyap sepenuhnya (0,0%), karena tidak ada lagi ruang politik yang cukup untuk manuver. Yang membuat temuan ini strategis bukan sekadar besarnya dampak, melainkan cara Iran dapat mengaktifkannya tanpa menembakkan satu peluru pun dari wilayah Iran sendiri. Cukup dengan satu sinyal ke Sanaa. Ini adalah bentuk leverage asimetris, di mana AS tidak dapat menetralisasi ancaman BaM dari kawasan Hormuz, sementara Iran dapat mengaktifkannya kapan saja sebagai "kartu cadangan" yang mempersingkat seluruh dinamika konflik. Dalam konteks ini, setiap eskalasi militer AS yang tidak disertai jalur diplomatik aktif justru memperbesar eksposur terhadap risiko penutupan BaM. Sebab, semakin tinggi tekanan ke Iran, semakin besar insentif Teheran menggunakan kartu Houthi sebelum kapabilitasnya habis total.
Jalur menuju penyelesaian masih terbuka, namun tidak melalui medan perang. Ia terletak pada diplomasi di Islamabad, saluran komunikasi di Oman, dan keputusan Washington mengenai respons terhadap ultimatum IRGC, apakah dengan eskalasi atau keheningan taktis.
Pada akhirnya, keenam temuan dari tulisan ini membutuhkan kajian mendalam lebih lanjut. Ini termasuk validasi parameter dan data lapangan yang lebih kaya, pengujian model oleh pakar geopolitik dan militer, serta pemutakhiran asumsi seiring perkembangan di lapangan. Oleh karena itu, nilai manfaat utamanya bukan terletak pada kepastian angka, melainkan pada fungsinya sebagai wacana awal yang membuka ruang bagi riset lebih sistematis dan mendalam. Tulisan ini bertujuan menawarkan kerangka berpikir yang terstruktur, bukan jawaban final, serta menjadi titik awal untuk merangsang diskusi, mempertajam pertanyaan, dan mendorong kajian lebih serius tentang dinamika konflik di kawasan tersebut.