Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memutuskan untuk menunda serangan militer terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari ke depan. Penundaan ini diumumkan beberapa jam sebelum batas waktu ancaman serangan AS.
Trump menyampaikan melalui Truth Social bahwa AS telah melakukan pertemuan dengan Iran selama dua hari untuk membahas penyelesaian konflik. Ia melaporkan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran berjalan dengan baik dan produktif dalam dua hari terakhir, membahas penyelesaian lengkap dan total atas perselisihan di timur tengah.
Trump menginstruksikan departemen perang untuk menunda semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Sebelumnya, Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka penuh dalam waktu 48 jam, terhitung sejak Sabtu (21/3). Serangan itu ditargetkan berlangsung pukul 19.44 EDT (2344 GMT) pada hari Senin.
Garda Revolusi Iran menanggapi ancaman ini dengan menargetkan pembangkit listrik Israel, serta pembangkit yang memasok listrik ke pangkalan AS di seluruh wilayah Teluk.
Aksi saling ancam ini dikhawatirkan memicu gangguan pasokan listrik ke negara-negara di kawasan Teluk, serta dapat mengganggu proses desalinasi air.
Konflik ini telah mengguncang pasar keuangan global, menaikkan biaya bahan bakar, memicu kekhawatiran inflasi global, dan menggoyahkan aliansi Barat.